OBATMU TERDAPAT DI DALAM DIRIMU
Romy Sastra II
Ketika sadar terpikirkan tujuan
Jangan lari dari kenyataan
Merasa perih tak ada penawar
Sedangkan Tuhan bersamamu, menyediakan segala kebutuhan
Jangan gelap bermain api,
kan terbakar nanti
Sedangkan cahaya hati selalu menerangi
Apakah kamu tak menyadari penawar lara
Ia berasal dari dirimu
Kenapa kamu tak mengetahuinya?
Kau mengira hatimu satu benda yang kecil
Namun
Di dalam hatimu
Termuat alam yang begitu besar
Segala lara ada obatnya
Surga dan neraka ada di dalamnya
Bahkan cinta dan benci bergandengan
Tak berjarak seperti misykat tak terlihat
Nyata mengikat erat sebuah perjalanan
Unsur tubuh kearifan ruh
Maka, kenalilah sang Maha Ruh
Hingga sakit terasa nikmat
Berjalanlah dengan pedoman
Biar tak tersesat jalan menempuh kehidupan dan kematian
HR RoS
Jakarta, 130617
#menjawab_syair_Syaidina_Ali
Jumat, 28 Juli 2017
Prosais Berguru Pada Semut
#puisi_prosais
Berguru Pada Semut
Romy Sastra II
Bisu bukan tak bersuara, aksara bahasanya mengeja kata.
Tarian jemarinya gemulai, yang melahirkan makna
Bisu membaca perihal cinta di dalam lirik, berkomat-kamit. Ia menyapa?
Adakah dikau tersenyum, ataukah terpana? Mestinya kita memahami, itu juga bahasa Tuhan.
Bergurulah pada semut-semut kecil yang beriring jalan! Saling mengenali.
Ia mencium aroma setia tak tersisih di garis kesetiaan, melainkan menyisihkan dendam.
"Duhai, diri....
Jangan kotori kewibawaan insan, malulah pada budi yang bersemayam di hati ini.
Jiwa kita menyemai plamboyan, kedamaian
Biarkan bunga-bunga cinta bermekaran di taman
Bibit-bibit kesahajaan pakaian keimanan. Janganlah menyimpan dendam, bunga layu, pelita kan padam.
Usah bertengkar diri! Kekang ego jangan bermain api, sedangkan angin masih berhembus, kipaslah dada,
Usah bertengkar diri! Sauk dan teguklah tirta di telaga sunyi, bermandilah dengan kacahaya rasa.
Dunia ini indah, nikmatilah! Hidup ini sesaat, kapan beribadah?
"Ya... malulah pada semut-semut kecil yang berbaris di tanah. Berikan laluannya, jangan injak, ia mati.
Tapi, ia tak dendam.
Ketika disakiti, jangan salahkan doa-doa yang dizalimi dimakbulkan Tuhan....
HR RoS
Jkt, 28/07/17
Berguru Pada Semut
Romy Sastra II
Bisu bukan tak bersuara, aksara bahasanya mengeja kata.
Tarian jemarinya gemulai, yang melahirkan makna
Bisu membaca perihal cinta di dalam lirik, berkomat-kamit. Ia menyapa?
Adakah dikau tersenyum, ataukah terpana? Mestinya kita memahami, itu juga bahasa Tuhan.
Bergurulah pada semut-semut kecil yang beriring jalan! Saling mengenali.
Ia mencium aroma setia tak tersisih di garis kesetiaan, melainkan menyisihkan dendam.
"Duhai, diri....
Jangan kotori kewibawaan insan, malulah pada budi yang bersemayam di hati ini.
Jiwa kita menyemai plamboyan, kedamaian
Biarkan bunga-bunga cinta bermekaran di taman
Bibit-bibit kesahajaan pakaian keimanan. Janganlah menyimpan dendam, bunga layu, pelita kan padam.
Usah bertengkar diri! Kekang ego jangan bermain api, sedangkan angin masih berhembus, kipaslah dada,
Usah bertengkar diri! Sauk dan teguklah tirta di telaga sunyi, bermandilah dengan kacahaya rasa.
Dunia ini indah, nikmatilah! Hidup ini sesaat, kapan beribadah?
"Ya... malulah pada semut-semut kecil yang berbaris di tanah. Berikan laluannya, jangan injak, ia mati.
Tapi, ia tak dendam.
Ketika disakiti, jangan salahkan doa-doa yang dizalimi dimakbulkan Tuhan....
HR RoS
Jkt, 28/07/17
Prosais Air Laut Tak Asin Lagi
#Puisi_prosais
AIR LAUT TAK ASIN LAGI
Romy Sastra
Layaran ini tak kuhentikan, meski gelombang datang menghadang, kulihat pantai itu ramai menanti pesta laut, dermaga hilir mudik membawa kristal-kristal asin ke pergudangan. Entah untuk apa kristal asin itu tuan timbun?" Negeri ini negeri bahari, kenapa mereka dahaga di atas air laut sendiri. Aku anak negeri ini heran, tertanya-tanya pada warta mengudara, pada teriak nyonya-nyonya di pasar-pasar, pada industri-industri kecil yang merasa rugi pada produksinya, perusahannya di ambang guling tikar, "Ya, karena harga garam melangit. Ironisnya, langka. Aneh, negeri bahari ini.
"Tuan?! Apakah air laut memang tak asin lagikah? Ataukah tuan sudah pencundang kenyang bermain petak umpet oleh kolonial nakal? Aku manggut-manggut sendiri, ini lucu. Lucu selucu-lucunya. Negeri bahari air lautnya tak asin lagi, kuah-kuah di panci serasa hambar, nyonya terkekeh-kekeh di dapur, garam aja kok bisa langka. Bedebahnya kerja menteri-menteri itu. Layaranku, akhirnya berlabuh pada maruah bangsa yang dijajah oleh pemodal bermata satu.
HR RoS
Jkt, 28/07/17
AIR LAUT TAK ASIN LAGI
Romy Sastra
Layaran ini tak kuhentikan, meski gelombang datang menghadang, kulihat pantai itu ramai menanti pesta laut, dermaga hilir mudik membawa kristal-kristal asin ke pergudangan. Entah untuk apa kristal asin itu tuan timbun?" Negeri ini negeri bahari, kenapa mereka dahaga di atas air laut sendiri. Aku anak negeri ini heran, tertanya-tanya pada warta mengudara, pada teriak nyonya-nyonya di pasar-pasar, pada industri-industri kecil yang merasa rugi pada produksinya, perusahannya di ambang guling tikar, "Ya, karena harga garam melangit. Ironisnya, langka. Aneh, negeri bahari ini.
"Tuan?! Apakah air laut memang tak asin lagikah? Ataukah tuan sudah pencundang kenyang bermain petak umpet oleh kolonial nakal? Aku manggut-manggut sendiri, ini lucu. Lucu selucu-lucunya. Negeri bahari air lautnya tak asin lagi, kuah-kuah di panci serasa hambar, nyonya terkekeh-kekeh di dapur, garam aja kok bisa langka. Bedebahnya kerja menteri-menteri itu. Layaranku, akhirnya berlabuh pada maruah bangsa yang dijajah oleh pemodal bermata satu.
HR RoS
Jkt, 28/07/17
Rabu, 26 Juli 2017
Sinopsis Bumi Mande Bapuisi
Sinopsis BMB Bumi Mande Bapuisi
Romy Sastra
Selayang pandang deburan pesisir menggugah tembok-tembok batu karang di Batu Kalang, pantai Kambang berhias pasir putih sejauh mata memandang dan hutan bakau di taman laut Bumi Mande Bapuisi. Kita bernyanyi bersama indahnya pesona pulau pantai Mande menghalau risau pada nyanyian yang sumbang menempuh petang, tentang kearifan lokal yang tak ingin tergerus zaman.
Di pantai Sago di pinggir jalan sajakku terhenti, kenapa camar-camar laut itu mulai enggan terbang tinggi, sedangkan siulan merpati tak ingin bisu, camar tak lagi mampu berlomba bernyanyi, ia memilih sunyi. Apakah sayap-sayapnya telah patah? "Ya... jika iya, masih ada sunset jingga nan jauh merupa menyulam cerita di kaki langit memanjakan dermaga Teluk Bayur dengan untaian lembayung pada riak-riak yang tenang. Satu sayap patah menikam jatuh, menimpa daun-daun mati, cukup saja tariannya melepas sayap putih terjatuh di daun mati, tunas-tunas enggan berganti, kenapa? "Oh... titian akar di negeri Pulut-Pulut Bayu Bayang Utara, destinasi wisata itu di ujung rimba, berhias negeri baru di atas awan, menitip cerita dua hati para remaja berkisah nostalgia, yang selalu setia menanti kehadiran kekasih tentang kepergian semusim rindu pada raya tiba.
Koto Baru Bayang, dibingkai janji-janji manis di rinai embun air terjun, destinasi berkasih sayang, di Bayang Sani itu, cerita bermula, kisah tak jadi di sini, rindu semusim usai pada rintik air bening di ujung mata mengundang pelangi bertandang, seperti bidadari membawa selendang bersolek di atas batu tak nampak oleh mata telanjang.
"Ya, sinopsis deburan petang, riang ombak bernyanyi di pantai yang tak lelah menari gemulai di sagara nan dalam. Aku terdiam di batas ranah Pesisir Selatan, berjuntai memandang, sejuknya tatapan ke hutan belantara di sana. Pada suara alam, lembutnya kicauan cericit si burung mungil bersahutan.
Pesisir Selatan di nyanyian diksi Bumi Mande Bapuisi kala senja menyapa pantai di Carocok Painan nan permai.
HR RoS
Jkt, 26/07/17
Romy Sastra
Selayang pandang deburan pesisir menggugah tembok-tembok batu karang di Batu Kalang, pantai Kambang berhias pasir putih sejauh mata memandang dan hutan bakau di taman laut Bumi Mande Bapuisi. Kita bernyanyi bersama indahnya pesona pulau pantai Mande menghalau risau pada nyanyian yang sumbang menempuh petang, tentang kearifan lokal yang tak ingin tergerus zaman.
Di pantai Sago di pinggir jalan sajakku terhenti, kenapa camar-camar laut itu mulai enggan terbang tinggi, sedangkan siulan merpati tak ingin bisu, camar tak lagi mampu berlomba bernyanyi, ia memilih sunyi. Apakah sayap-sayapnya telah patah? "Ya... jika iya, masih ada sunset jingga nan jauh merupa menyulam cerita di kaki langit memanjakan dermaga Teluk Bayur dengan untaian lembayung pada riak-riak yang tenang. Satu sayap patah menikam jatuh, menimpa daun-daun mati, cukup saja tariannya melepas sayap putih terjatuh di daun mati, tunas-tunas enggan berganti, kenapa? "Oh... titian akar di negeri Pulut-Pulut Bayu Bayang Utara, destinasi wisata itu di ujung rimba, berhias negeri baru di atas awan, menitip cerita dua hati para remaja berkisah nostalgia, yang selalu setia menanti kehadiran kekasih tentang kepergian semusim rindu pada raya tiba.
Koto Baru Bayang, dibingkai janji-janji manis di rinai embun air terjun, destinasi berkasih sayang, di Bayang Sani itu, cerita bermula, kisah tak jadi di sini, rindu semusim usai pada rintik air bening di ujung mata mengundang pelangi bertandang, seperti bidadari membawa selendang bersolek di atas batu tak nampak oleh mata telanjang.
"Ya, sinopsis deburan petang, riang ombak bernyanyi di pantai yang tak lelah menari gemulai di sagara nan dalam. Aku terdiam di batas ranah Pesisir Selatan, berjuntai memandang, sejuknya tatapan ke hutan belantara di sana. Pada suara alam, lembutnya kicauan cericit si burung mungil bersahutan.
Pesisir Selatan di nyanyian diksi Bumi Mande Bapuisi kala senja menyapa pantai di Carocok Painan nan permai.
HR RoS
Jkt, 26/07/17
Selasa, 25 Juli 2017
Puisi prosais_ OH, BAYANGANKU
#puisi_prosais
OH, BAYANGANKU
Romy Sastra
Di pertengahan terik, titik pusar hari membakari bayanganku, aku tegar. Sepoinya sang bayu menderu dedaunan, tak mampu redamkan panas di ubun, meski tertutup seribu topi di kepala, justru lelehan lahar mengaliri, harungi kulit-kulit di badan serasa bermandi tak berpancuran.
Jangan salahpaham pada Tuhan!" RahmatNya tidak terbatas pada hujan dan embun malam yang diidamkan oleh kesuburan. Tanpa kau terik, buah-buah tak meranum bergizi, malah ia akan membusuk sebelum matangnya tiba. "Tuhan... ajarkan hati ini bersyukur, jangan lalaikan hambaMu akan anugerah matahari yang dikutuk pada insan si pengeluh, di bawah terik rahmatMu yang tak dirindui ini.
Bayangan diri ini telah mulai perlahan berangsur menjauh pergi dari lingga diri. "Sadarkan hati!" Bahwa senja akan tiba, pertanda bekal azali pada janji hidup sebentar lagi berakhir di tangan misteri, terampaskah nyawa ini?" Ataukah dipeluk kekasih, entahlah....
HR RoS
Jkt, 26/07/17
OH, BAYANGANKU
Romy Sastra
Di pertengahan terik, titik pusar hari membakari bayanganku, aku tegar. Sepoinya sang bayu menderu dedaunan, tak mampu redamkan panas di ubun, meski tertutup seribu topi di kepala, justru lelehan lahar mengaliri, harungi kulit-kulit di badan serasa bermandi tak berpancuran.
Jangan salahpaham pada Tuhan!" RahmatNya tidak terbatas pada hujan dan embun malam yang diidamkan oleh kesuburan. Tanpa kau terik, buah-buah tak meranum bergizi, malah ia akan membusuk sebelum matangnya tiba. "Tuhan... ajarkan hati ini bersyukur, jangan lalaikan hambaMu akan anugerah matahari yang dikutuk pada insan si pengeluh, di bawah terik rahmatMu yang tak dirindui ini.
Bayangan diri ini telah mulai perlahan berangsur menjauh pergi dari lingga diri. "Sadarkan hati!" Bahwa senja akan tiba, pertanda bekal azali pada janji hidup sebentar lagi berakhir di tangan misteri, terampaskah nyawa ini?" Ataukah dipeluk kekasih, entahlah....
HR RoS
Jkt, 26/07/17
Puisi prosais_Pijar Hati Yang Kucari
#Puisi_Prosais
Pijar Hati Yang Kucari
Romy Sastra
Siang tadi pijar hari menyapa, sebuah keniscayaan spirit alam menyinari mayapada. Ia menyemangati kulit ariku, bukan membakari. Embun pagi lenyap ditikam aurora langit.
Lebam di tangan tak peduli, kubiarkan saja ia menggenggam nasib badan.
Jalani saja liku-liku perjalanan hidup ini menempuh destinasi cinta di penghujung usia. "Ah... resah, kenapa bergayut hiba di sudut mata yang mulai basah?" Seperti embun senja menyapa dedaunan, dahaga dibakari pijar hari siang tadi.
"Ya...senja telah tiba, pijar hari kembali ke peraduan sunyi. Kulipat langit kala malam, kuhamparkan sajadah, kuhitung-hitung tiket pertunjukkan menatap layar diri. Layar terbentang pijar hakiki bertandang, inikah destinasi yang sesungguhnya kucari. "Ya, bersemayamnya maha cinta di hati ini. Ia yang tak pernah alpa menatap dengan kasih sayang tak berhujung tak bertepi selagi batin memandang.
Makrifat cintaku nyata adanya,
kehadirannya memanglah indah.
Aku terpesona....
HR RoS
Jkt, 24/07/17
Pijar Hati Yang Kucari
Romy Sastra
Siang tadi pijar hari menyapa, sebuah keniscayaan spirit alam menyinari mayapada. Ia menyemangati kulit ariku, bukan membakari. Embun pagi lenyap ditikam aurora langit.
Lebam di tangan tak peduli, kubiarkan saja ia menggenggam nasib badan.
Jalani saja liku-liku perjalanan hidup ini menempuh destinasi cinta di penghujung usia. "Ah... resah, kenapa bergayut hiba di sudut mata yang mulai basah?" Seperti embun senja menyapa dedaunan, dahaga dibakari pijar hari siang tadi.
"Ya...senja telah tiba, pijar hari kembali ke peraduan sunyi. Kulipat langit kala malam, kuhamparkan sajadah, kuhitung-hitung tiket pertunjukkan menatap layar diri. Layar terbentang pijar hakiki bertandang, inikah destinasi yang sesungguhnya kucari. "Ya, bersemayamnya maha cinta di hati ini. Ia yang tak pernah alpa menatap dengan kasih sayang tak berhujung tak bertepi selagi batin memandang.
Makrifat cintaku nyata adanya,
kehadirannya memanglah indah.
Aku terpesona....
HR RoS
Jkt, 24/07/17
Minggu, 23 Juli 2017
Cerpen kolaborasi, Ketika Cinta Tak Direstui
#Cerpen_Kolaborasi
KETIKA CINTA TAK DIRESTUI
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
#1
Mentari telah meninggi, di balik pentilasi jendela. Perlahan kusibak tirai pembatas dingin dari siklus hawa tak menentu menerebos jiwa nan lara.
Sedangkan hati ini masih resah, menatap jalanan yang diguyuri hujan semalam.
Tok..tok...tok....
Terdengar suara ketukkan pintu
dari luar kamar, seperti ada yang mau membangunkanku.
"Hai... Ridwan, bangun! hari sudah siang.
Apakah kamu gak kerja hari ini? Sahut suara itu.
Sepertinya ibuku memanggil ini, bisikku dalam hati.
"Ya... ibu, aku sudah bangun ini,
ibu berlalu mendengar jawabanku telah bangun.
Lama tatapan kosong
kala memandang satu pigura di dinding kamar terpampang.
Ia Anetta, kekasihku.
Bergumam, bertanya dalam bisu?"
"Netta?"
Kenapa dikau hadir mengisi hidupku,
abang mencintaimu Netta
sedangkan akidah kita berbeda
diriku ingin memilikimu.
Tapi, "ahh... lamunan, kau usik jiwaku.
Anetta, kita yang pernah mengikat janji tuk saling mencintai selamanya, apapun itu rintangan kita nanti, akan dihadapi berdua.
Bak merpati tak ingin ingkari janji sampai mati.
Setengah dekade jalinan cinta bersamamu, orang tuaku belum diberi tahu sama sekali tentang hubungan kita.
Pagi telah merambat pergi, aku Ridwan masih saja di atas tilam lusuh berbantal jemari letih.
Dengan rasa malas tiba-tiba, aku putuskan tak masuk kerja hari ini.
Lalu, ibuku mengetuk pintu kedua kalinya.
Tok..tok...tok....
"Ridwan..., haii, nak?"
kenapa belum bangun juga kau ini?"
Tak sabar ibuku membuka pintu, kreekk...
memang pintu tak terkunci dari semalam.
"Walah... kau ini Ridwan!"
Ada apa sih kamu kok melamun begitu, hari sudah siang, apa kamu cuti hari ini?
tanya ibuku dengan nada penasaran.
(Aku masih saja diam menatap
foto Anetta di dinding kamarku)
Spontan ibuku mengambil bingkai yang terpampang di dinding, ia sudah lama potret itu menghias relung-relung asmara, di kala kurindu dengan Anetta.
*******
Coba kamu terangkan Ridwan!"
Ada apa dengan foto ini?
Kutatap wajah ibu dengan rasa pesimis dan malu.
"Ibu..., maafkan Ridwan ya bu.
Foto ini adalah Anetta kekasihku bu,"
terus!" tanya ibu lagi.
Ia Anetta, sudah lama kupacari, Netta minta menikah denganku ibu.
"Lho... baguslah itu Ridwan, Nietta kan cantik, wanita karir lagi,
dan kalian saling mencintai kok.
Ibu juga tak sabar menimang cucu kesayangan dari pernikahan kalian nanti.
Ia ibu, tapi.
Tapi kenapa Ridwan?"
"Ibu... Anetta itu beragama Kristiani lho ibu.
"Walah... sahut ibu.
Tidakk, tidak Ridwan....
Ibu tidak merestui kamu menikah dengan Anetta itu. Dengar Ridwan!"
Apa kata dunia, jikalau ibu punya menantu orang Kristiani.
Mau ditarok di mana muka ibu, semua saudara mencelamu nanti Ridwan.
"Buu... yang menikah itu aku bu,
bukan mereka.
"Ia... ibu tahu itu Ridwan, tapi bagaimana pertanggungjawaban di akhirat kelak, sedangkan tuntunan agama kita jelas melarang menikah beda agama.
"Yaa... ibu, cinta itu butuh perjuangan serta pengorbanan.
Pengorbanan apa? Tidakk Ridwan.
Kamu tidak boleh menikah dengan Anetta itu, titik....
Ibuku keluar dari dalam kamar, membawa ekspresi gundah gulana.
Sedangkan aku larut dalam pikir, bak buah simalakama menjadi menu pagiku.
Kutuliskan sepucuk surat
kukirimkan pada Anetta.
Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang....
*******
#2
Sementara itu di tempat lain...
Anetta termangu..
Matanya menatap jauh ke arah jendela kantornya yang berhadapan dengan laut...
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang..... atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kutipan ayat yang disampaikan pendeta dalam khotbah ibadah minggu masih saja terngiang dalam telinganya. Hati Anetta benar-benar kacau balau.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Tuhan... di sisi lain aku begitu mencintai Ridwan... tapiiii....." batin Anetta.
Hanya butiran bening yang menetes di pelupuk mata Netta.
_________________
__________________
Suatu siang...
Sepucuk surat dari Ridwan datang.
Dengan tergesa-gesa Anetta pun segera membukanya.
"Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang.."
Anetta terhenyak ketika membaca surat dari Ridwan. Ada pemberontakan yang begitu hebat di hatinya.
"Tidak... jangan sekarang Bang.. aku belum siap bila harus berpisah dengan abang!" jerit Netta sambil meremas surat dari Ridwan.
Ia pun bergegas mencoba menghubungi Ridwan di handphonenya, namun sia-sia saja. Nomor milik Ridwan tidak aktif.
Ahkirnya ia pun memutuskan mencari Ridwan ke Jakarta.
Bukan hal yang mudah untuk mencari alamat Ridwan di Jakarta. Namun dengan sedikit bantuan dari seorang teman, Anetta berhasil menemukan rumah Ridwan.
"Tok... tok... tok... permisi..." ucap Netta sambil mengetuk pintu rumah Ridwan.
"iya sebentar" sahut suara dari dalam.
Tidak berapa lama terdengar pintu dibuka, kreekkk....
"Netta???" ucap Ridwan terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Ridwan setengah tidak percaya jika yang dihadapinya adalah Anetta, kekasih hatinya, lima tahun lamanya ia menjalin cinta.
"Eh.. anu.. itu.. eh... silahkan duduk Netta" kata Ridwan sambil tergagap-gagap.
Anetta pun duduk berhadapan dengan Ridwan. Untuk sementara waktu mereka hanya saling terdiam. Hingga pertanyaan Ridwan pun memecah keheningan di antara mereka.
"Kapan kau sampai di Jakarta?" tanya Ridwan.
"Kemarin siang saya sampai abang, aku menginap di rumah Maria. Dia yang membantuku mencari alamat abang." ucap Netta getir.
Lagi-lagi mereka berdua pun kembali terdiam.
Netta membuka pembicaraan
"Kenapa Bang? Tidak adakah jalan keluar yang terbaik buat kita? Apakah memang semua harus berakhir seperti ini?" kata Anetta terisak.
"Entah Net.. tapi mungkin ini yang terbaik." ujar Ridwan.
"Tapi Netta mencintai abang...." sanggah Anetta.
"Begitu pula dengan abang Netta... abang juga mencintai Netta tapi perbedaan kita sungguh tidak bisa disatukan Net..." sahut Ridwan. "Apa kamu mau berpindah keyakinan demi aku supaya kita bersatu?" lanjutnya.
Anetta terdiam dan tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jawab Net.. apa Netta mau?" desak Ridwan. "Maaf bang... Netta tidak bisa membohongi kata hati Netta... Netta tidak bisa ikut keyakinan yang abang anut..." ucap Anetta.
"Begitu pula dengan abang Net... bila kamu mengajukan pertanyaan yang sama, abang pun tidak sanggup untuk ikut keyakinan yang kamu anut..." sahut Ridwan. "Dan lagi... apakah kita mau menyakiti hati orangtua kita bila bersikukuh meneruskan hubungan ini?"
Anetta menggeleng.
"Bagaimana pula dengan anak-anak kita kelak? Tidak mungkin dalam satu kapal akan dikendalikan dua nahkoda dan akidah... kapal tersebut tentu akan kesulitan menemukan arah dan tujuannya... Kamu paham kan Net?" ucap Ridwan.
Anetta pun menyeka air matanya.
"Netta paham bang... Maaf bila Netta terlalu egois ingin memaksakan hubungan ini...
Dengan hati yang kecewa, gayung tak bersambut, bak pucuk dicinta ulam layu sudah.
"Oya, bang, Netta pamit pulang aja ke Semarang bang... Netta ikhlas... Netta legowo dengan keputusan yang abang ambil... Semoga abang menemukan wanita solehah untuk mendampingi hidup abang... doa Netta menyertai abang. Dan Netta tidak pernah menyesal jatuh cinta pada bang Ridwan" ucap Netta sambil tersenyum.
"Abang pun juga begitu Net.. Abang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Netta dan abang doakan Netta pun segera menemukan pendamping yang lebih baik dari abang" jawab Ridwan.
(Hingga Ridwan berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya Anetta)
Selesai
Jakarta, Semarang, 24/01/2017
KETIKA CINTA TAK DIRESTUI
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
#1
Mentari telah meninggi, di balik pentilasi jendela. Perlahan kusibak tirai pembatas dingin dari siklus hawa tak menentu menerebos jiwa nan lara.
Sedangkan hati ini masih resah, menatap jalanan yang diguyuri hujan semalam.
Tok..tok...tok....
Terdengar suara ketukkan pintu
dari luar kamar, seperti ada yang mau membangunkanku.
"Hai... Ridwan, bangun! hari sudah siang.
Apakah kamu gak kerja hari ini? Sahut suara itu.
Sepertinya ibuku memanggil ini, bisikku dalam hati.
"Ya... ibu, aku sudah bangun ini,
ibu berlalu mendengar jawabanku telah bangun.
Lama tatapan kosong
kala memandang satu pigura di dinding kamar terpampang.
Ia Anetta, kekasihku.
Bergumam, bertanya dalam bisu?"
"Netta?"
Kenapa dikau hadir mengisi hidupku,
abang mencintaimu Netta
sedangkan akidah kita berbeda
diriku ingin memilikimu.
Tapi, "ahh... lamunan, kau usik jiwaku.
Anetta, kita yang pernah mengikat janji tuk saling mencintai selamanya, apapun itu rintangan kita nanti, akan dihadapi berdua.
Bak merpati tak ingin ingkari janji sampai mati.
Setengah dekade jalinan cinta bersamamu, orang tuaku belum diberi tahu sama sekali tentang hubungan kita.
Pagi telah merambat pergi, aku Ridwan masih saja di atas tilam lusuh berbantal jemari letih.
Dengan rasa malas tiba-tiba, aku putuskan tak masuk kerja hari ini.
Lalu, ibuku mengetuk pintu kedua kalinya.
Tok..tok...tok....
"Ridwan..., haii, nak?"
kenapa belum bangun juga kau ini?"
Tak sabar ibuku membuka pintu, kreekk...
memang pintu tak terkunci dari semalam.
"Walah... kau ini Ridwan!"
Ada apa sih kamu kok melamun begitu, hari sudah siang, apa kamu cuti hari ini?
tanya ibuku dengan nada penasaran.
(Aku masih saja diam menatap
foto Anetta di dinding kamarku)
Spontan ibuku mengambil bingkai yang terpampang di dinding, ia sudah lama potret itu menghias relung-relung asmara, di kala kurindu dengan Anetta.
*******
Coba kamu terangkan Ridwan!"
Ada apa dengan foto ini?
Kutatap wajah ibu dengan rasa pesimis dan malu.
"Ibu..., maafkan Ridwan ya bu.
Foto ini adalah Anetta kekasihku bu,"
terus!" tanya ibu lagi.
Ia Anetta, sudah lama kupacari, Netta minta menikah denganku ibu.
"Lho... baguslah itu Ridwan, Nietta kan cantik, wanita karir lagi,
dan kalian saling mencintai kok.
Ibu juga tak sabar menimang cucu kesayangan dari pernikahan kalian nanti.
Ia ibu, tapi.
Tapi kenapa Ridwan?"
"Ibu... Anetta itu beragama Kristiani lho ibu.
"Walah... sahut ibu.
Tidakk, tidak Ridwan....
Ibu tidak merestui kamu menikah dengan Anetta itu. Dengar Ridwan!"
Apa kata dunia, jikalau ibu punya menantu orang Kristiani.
Mau ditarok di mana muka ibu, semua saudara mencelamu nanti Ridwan.
"Buu... yang menikah itu aku bu,
bukan mereka.
"Ia... ibu tahu itu Ridwan, tapi bagaimana pertanggungjawaban di akhirat kelak, sedangkan tuntunan agama kita jelas melarang menikah beda agama.
"Yaa... ibu, cinta itu butuh perjuangan serta pengorbanan.
Pengorbanan apa? Tidakk Ridwan.
Kamu tidak boleh menikah dengan Anetta itu, titik....
Ibuku keluar dari dalam kamar, membawa ekspresi gundah gulana.
Sedangkan aku larut dalam pikir, bak buah simalakama menjadi menu pagiku.
Kutuliskan sepucuk surat
kukirimkan pada Anetta.
Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang....
*******
#2
Sementara itu di tempat lain...
Anetta termangu..
Matanya menatap jauh ke arah jendela kantornya yang berhadapan dengan laut...
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang..... atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kutipan ayat yang disampaikan pendeta dalam khotbah ibadah minggu masih saja terngiang dalam telinganya. Hati Anetta benar-benar kacau balau.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Tuhan... di sisi lain aku begitu mencintai Ridwan... tapiiii....." batin Anetta.
Hanya butiran bening yang menetes di pelupuk mata Netta.
_________________
__________________
Suatu siang...
Sepucuk surat dari Ridwan datang.
Dengan tergesa-gesa Anetta pun segera membukanya.
"Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang.."
Anetta terhenyak ketika membaca surat dari Ridwan. Ada pemberontakan yang begitu hebat di hatinya.
"Tidak... jangan sekarang Bang.. aku belum siap bila harus berpisah dengan abang!" jerit Netta sambil meremas surat dari Ridwan.
Ia pun bergegas mencoba menghubungi Ridwan di handphonenya, namun sia-sia saja. Nomor milik Ridwan tidak aktif.
Ahkirnya ia pun memutuskan mencari Ridwan ke Jakarta.
Bukan hal yang mudah untuk mencari alamat Ridwan di Jakarta. Namun dengan sedikit bantuan dari seorang teman, Anetta berhasil menemukan rumah Ridwan.
"Tok... tok... tok... permisi..." ucap Netta sambil mengetuk pintu rumah Ridwan.
"iya sebentar" sahut suara dari dalam.
Tidak berapa lama terdengar pintu dibuka, kreekkk....
"Netta???" ucap Ridwan terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Ridwan setengah tidak percaya jika yang dihadapinya adalah Anetta, kekasih hatinya, lima tahun lamanya ia menjalin cinta.
"Eh.. anu.. itu.. eh... silahkan duduk Netta" kata Ridwan sambil tergagap-gagap.
Anetta pun duduk berhadapan dengan Ridwan. Untuk sementara waktu mereka hanya saling terdiam. Hingga pertanyaan Ridwan pun memecah keheningan di antara mereka.
"Kapan kau sampai di Jakarta?" tanya Ridwan.
"Kemarin siang saya sampai abang, aku menginap di rumah Maria. Dia yang membantuku mencari alamat abang." ucap Netta getir.
Lagi-lagi mereka berdua pun kembali terdiam.
Netta membuka pembicaraan
"Kenapa Bang? Tidak adakah jalan keluar yang terbaik buat kita? Apakah memang semua harus berakhir seperti ini?" kata Anetta terisak.
"Entah Net.. tapi mungkin ini yang terbaik." ujar Ridwan.
"Tapi Netta mencintai abang...." sanggah Anetta.
"Begitu pula dengan abang Netta... abang juga mencintai Netta tapi perbedaan kita sungguh tidak bisa disatukan Net..." sahut Ridwan. "Apa kamu mau berpindah keyakinan demi aku supaya kita bersatu?" lanjutnya.
Anetta terdiam dan tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jawab Net.. apa Netta mau?" desak Ridwan. "Maaf bang... Netta tidak bisa membohongi kata hati Netta... Netta tidak bisa ikut keyakinan yang abang anut..." ucap Anetta.
"Begitu pula dengan abang Net... bila kamu mengajukan pertanyaan yang sama, abang pun tidak sanggup untuk ikut keyakinan yang kamu anut..." sahut Ridwan. "Dan lagi... apakah kita mau menyakiti hati orangtua kita bila bersikukuh meneruskan hubungan ini?"
Anetta menggeleng.
"Bagaimana pula dengan anak-anak kita kelak? Tidak mungkin dalam satu kapal akan dikendalikan dua nahkoda dan akidah... kapal tersebut tentu akan kesulitan menemukan arah dan tujuannya... Kamu paham kan Net?" ucap Ridwan.
Anetta pun menyeka air matanya.
"Netta paham bang... Maaf bila Netta terlalu egois ingin memaksakan hubungan ini...
Dengan hati yang kecewa, gayung tak bersambut, bak pucuk dicinta ulam layu sudah.
"Oya, bang, Netta pamit pulang aja ke Semarang bang... Netta ikhlas... Netta legowo dengan keputusan yang abang ambil... Semoga abang menemukan wanita solehah untuk mendampingi hidup abang... doa Netta menyertai abang. Dan Netta tidak pernah menyesal jatuh cinta pada bang Ridwan" ucap Netta sambil tersenyum.
"Abang pun juga begitu Net.. Abang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Netta dan abang doakan Netta pun segera menemukan pendamping yang lebih baik dari abang" jawab Ridwan.
(Hingga Ridwan berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya Anetta)
Selesai
Jakarta, Semarang, 24/01/2017
Langganan:
Postingan (Atom)