#kwatrin
INTROPEKSI DIRI OBAT SAKIT HATI
Romy Sastra II
Kalau perlu menangislah!
Jika lara itu kan luruh, berlalunya duka
Kembalikan senyuman yang tersisa
Jangan bermain hiba di sudut hati, kan tersiksa
Ketika janjian bertamu, bahwa ia adalah ibadah
Jangan salahkan takdir menyapa
Sedangkan suratan lagi bermain bersama misteri kehidupan
Seperti gulungan awan hitam menyimpan hujan
Jangkaulah langit tertinggi di haribaan-Nya
Bisikan mantera jiwa ke dalam doa
Bawalah seuntai madah cinta, kepada maha cinta
Malaikat kan tersenyum, menatap insan yang berduka
Kabarkan kepada Rabbani!"
Doa-doa cinta berhias tobat nasuha
Redalah segala resah menghimpit hati
Semoga luruh nan risau berganti ceria kembali
Kehidupan dan kematian adalah keniscayaan
Maka tersenyumlah menghadapi ujian
Biarkan hikmah mendewasakan kisah pada suratan
Semoga bertambah penghayatan diri, tuk cabari laju kehidupan
Sedangkan senja pasti menanti, temaram
Memintali siang ke ranah malam, tenggelam
Ia isyarat alam pada hidup di kemudian
Jangan tangisi benang kusut tak terurai, kembalilah kepada Tuhan
Intropeksi adalah penyelesaian terindah
Jangan sesali luka, bahwa hati meminta kedamaian sepanjang usia
Bercumbulah bersama problema
Biarkan ia tersenyum mesra, melahirkan keharifan tiada tara
HR RoS
Jakarta, 30/03/2017
Kamis, 30 Maret 2017
Rabu, 29 Maret 2017
Sajak Naratif
KHALIFAH MAHKOTA DIRI
Romy Sastra II
mahkota tersusun indah, harkat diri martabat tubuh, lambaian seperti mayang menari disepoi si angin lalu
mahkota nan indah berjela-jela tutupi maruah istana tak terjatuh di lembah hina, jadi jembatan melaju menuju mimpi-mimpi
pandai berkaca di kening kan tampak kilauan manik-manik permata, merupa tak dapat disentuh,
tak pandai mengemudi lorong hati, pekat membayangi
matahari diri menatap terik tersungkur malu
tak pandai memandang tertipu dungu
mata hati bersenandung rindu bertemu rindu
meneguk telaga firdausi tak berair melainkan nurrun ala nurrin
nafs-nafs menghela bergerilya adakala sama seiring senada, jadilah seperti seruling senandungkan puji,
adakala ia tak sama bernyanyi
tersendat terikat simpul kabari rahsi melangkah
wahai angin nan berhembus, jangan lelah memompa jantung berlari, biarkan sumbu selalu hangat
nyalakan lilin di nampan misteri
layar kipas mengipas, sharinglah kabar dan opini, jangan iringi musik nan berbisik merusak amarah membakar istana, kan lebur gunung Thursina dihantam badai melanda, terimalah untaian firman, bahwa ia adalah kabar terindah dan mulya, menutup segala isu nan membunuh
oohh, lubang dunia terminal rasa
jangan tamak menggigit segala yang ada, jadilah corong memfilter nikmat dan pahit, dari sanalah bermula kebaikan dan keburukan terjadi, pada sari-sari dilumat, jadi saripati menyuburkan organik di batang tubuh ini
mahkota di kepala harkat martabat diri
wajah nan indah sempurnanya Ka'batullah
rebahkan ia menuju denstinasi tertinggi
tunduk dan sujudkan sepanjang waktu bertamu
HR RoS
Jakarta, 28/03/2017
Romy Sastra II
mahkota tersusun indah, harkat diri martabat tubuh, lambaian seperti mayang menari disepoi si angin lalu
mahkota nan indah berjela-jela tutupi maruah istana tak terjatuh di lembah hina, jadi jembatan melaju menuju mimpi-mimpi
pandai berkaca di kening kan tampak kilauan manik-manik permata, merupa tak dapat disentuh,
tak pandai mengemudi lorong hati, pekat membayangi
matahari diri menatap terik tersungkur malu
tak pandai memandang tertipu dungu
mata hati bersenandung rindu bertemu rindu
meneguk telaga firdausi tak berair melainkan nurrun ala nurrin
nafs-nafs menghela bergerilya adakala sama seiring senada, jadilah seperti seruling senandungkan puji,
adakala ia tak sama bernyanyi
tersendat terikat simpul kabari rahsi melangkah
wahai angin nan berhembus, jangan lelah memompa jantung berlari, biarkan sumbu selalu hangat
nyalakan lilin di nampan misteri
layar kipas mengipas, sharinglah kabar dan opini, jangan iringi musik nan berbisik merusak amarah membakar istana, kan lebur gunung Thursina dihantam badai melanda, terimalah untaian firman, bahwa ia adalah kabar terindah dan mulya, menutup segala isu nan membunuh
oohh, lubang dunia terminal rasa
jangan tamak menggigit segala yang ada, jadilah corong memfilter nikmat dan pahit, dari sanalah bermula kebaikan dan keburukan terjadi, pada sari-sari dilumat, jadi saripati menyuburkan organik di batang tubuh ini
mahkota di kepala harkat martabat diri
wajah nan indah sempurnanya Ka'batullah
rebahkan ia menuju denstinasi tertinggi
tunduk dan sujudkan sepanjang waktu bertamu
HR RoS
Jakarta, 28/03/2017
Puisi
NABIYULLAH SULAIMAN
Romy Sastra II
Dengan izinNya
Tunduk segala makhluk padamu
Tiada yang agung kerajaan selain kerajaanmu
Tiada yang kaya,
selain kekayaanmu di dunia ini
Engkau tak sombong wahai Nabiyullah
Nabiyullah Sulaiman sejarah teragung
Permata-permata jadi kaca, Balqis terkesima
Singgasana Saba dilipat dalam doa
Sekejap lenyap tak berharga
Balqis tunduk menyerah
Kekuasaanmu tak satupun menandingi, di zaman itu hingga nanti
Penyembahanmu sampai tongkat melapuk
Hingga rayap-rayap bermain debu
Bahwa ibadahnya fana ke ujung nyawa
Tersungkur,
entah berapa lama roh berpisah dari raga
HR RoS
Jkt, 27/03/2017
Romy Sastra II
Dengan izinNya
Tunduk segala makhluk padamu
Tiada yang agung kerajaan selain kerajaanmu
Tiada yang kaya,
selain kekayaanmu di dunia ini
Engkau tak sombong wahai Nabiyullah
Nabiyullah Sulaiman sejarah teragung
Permata-permata jadi kaca, Balqis terkesima
Singgasana Saba dilipat dalam doa
Sekejap lenyap tak berharga
Balqis tunduk menyerah
Kekuasaanmu tak satupun menandingi, di zaman itu hingga nanti
Penyembahanmu sampai tongkat melapuk
Hingga rayap-rayap bermain debu
Bahwa ibadahnya fana ke ujung nyawa
Tersungkur,
entah berapa lama roh berpisah dari raga
HR RoS
Jkt, 27/03/2017
Minggu, 26 Maret 2017
Puisi
SURAT TERAKHIRKU
Karya Romy Sastra
Akhir sebuah cerita
kugoreskan tinta merah
pada secarik kertas putih
linangan air mata berkaca-kaca
tumpahkan kekecewaan
lewat tinta terakhir ini
Meski kutahu
tak kan mungkin kertas putih
membungkus api
pada rindu menganyam cemburu
Pernah dulu kita menjanjikan ikrar setia
terlena dibuai indahnya belaian manja
kini kau campakkan aku di sudut duka
Cinta sudah direnggut dikhianati
dirampas dalam keterlenaan
setelah puas, kau berlalu ....
Pernah delikmu bersandiwara
mencari titik kesalahan
kau temukan setitik noda dari salahku
yaitu, ketidaktahuan aku
tentang sebuah canda dan fakta
kau jadikan itu senjata menikam kisah
bak nila setitik, rusak gulai sebelanga
Pedihnya luka kau torehkan ke dada ini
masih bisa kutahan
bahkan kau coreng arang di keningku
masih mampu malu kupejam
Kini,
kau berlalu dengan kekasih yang baru
aku rela mendoakanmu
semoga kau berbahagia bersamanya
Surat terakhir ini,
adalah akhir sebuah cinta
kuhantarkan lewat media maya
tutuplah rapat-rapat kenangan indah bersamamu
biarkan ia membisu
Seteguk rindu pernah dirampas dulu
adalah kebodohanku
"Aahh ... kini,
jangan pernah kau datang lagi
ke dalam hidupku
kalau itu hanya persinggahan sementara
hanya mengisi sepi sisa hidupku saja
biarlah kututup rapat-rapat kenangan bersamamu
akan aku abadikan ke dalam history
Dan aku berjanji,
tak ingin cari penggantimu lagi
setia ini,
kugenggam sampai mati
walau bersama bayanganmu
karena cinta setengah hati telah kau bagi
Satu pintaku,
pahamilah setia ini
meski aku tak sempurna
menghadiahkan cinta yang bersahaja
Pilihlah jalan hidupmu
doaku menyertaimu
selamat tinggal kekasih
selamat tinggal kenangan....
HR RoS
Jakarta, 10-11-2015, 08,53
Kamis, 23 Maret 2017
Kwatrin
#Kwatrin
LAYARAN AKAN TENGGELAM
Romy Sastra II
Dayung ini hampir rapuh, wahai impian
Laju layaran akan sampai jua, tenggelam
Tak mesti gagah berdiri di destinasi
Menikmati hidup di setiap langkah adalah sampai
Jangan menabur haru, debar kian gemuruh
Riak-riak menari usiknya sang bayu
Berkacalah diri pada kisah nan lalu
Hidup keniscayaan, kematian pun bertamu
Layaran akan tenggelam
Tak mesti di dermaga berlabuh
Satu langkah melaju jatuh
Beribu kilo berlayar tetap karam
Menikmati pemberian adalah syukur
Jangan berkeluh kesah jatah itu diberi
Ikhtiar hasil sedikit banyak sama saja
Hanyalah amal pelipur lara di alam misteri
Tuan dan nyonya
Sudilah menyirami daun-daun nan layu
Walau ilalang tegar berdiri cabari gersang
Semoga bunga berbuah aset itu nanti
Menunduklah sekejap wahai keangkuhan
Adakah rinai terjatuh di liang zam-zam
Temukan kedamaian rindukan kematian
Diri ini tak berlangsung lama iringi dunia
Renungi jejak-jejak kau jelang
Serasa semu tiada yang abadi
Menangislah akan dosa, mungkinkah terampuni
Sedangkan noda daki di hati kian menumpuk
Pada puisi kutumpahkan sesalan
Pada doa kularung kesalahan
Pada kekasih membawa rindu
Semoga yang dicintai sudi bertamu
Kekasih, kumerinduimu
Peluklah bangkai ini, ampuni aku
Leburkan segala dosa yang ada
Tersenyumlah Dikau menyambutku nanti
HR RoS
Jakarta, 23/03/2017
LAYARAN AKAN TENGGELAM
Romy Sastra II
Dayung ini hampir rapuh, wahai impian
Laju layaran akan sampai jua, tenggelam
Tak mesti gagah berdiri di destinasi
Menikmati hidup di setiap langkah adalah sampai
Jangan menabur haru, debar kian gemuruh
Riak-riak menari usiknya sang bayu
Berkacalah diri pada kisah nan lalu
Hidup keniscayaan, kematian pun bertamu
Layaran akan tenggelam
Tak mesti di dermaga berlabuh
Satu langkah melaju jatuh
Beribu kilo berlayar tetap karam
Menikmati pemberian adalah syukur
Jangan berkeluh kesah jatah itu diberi
Ikhtiar hasil sedikit banyak sama saja
Hanyalah amal pelipur lara di alam misteri
Tuan dan nyonya
Sudilah menyirami daun-daun nan layu
Walau ilalang tegar berdiri cabari gersang
Semoga bunga berbuah aset itu nanti
Menunduklah sekejap wahai keangkuhan
Adakah rinai terjatuh di liang zam-zam
Temukan kedamaian rindukan kematian
Diri ini tak berlangsung lama iringi dunia
Renungi jejak-jejak kau jelang
Serasa semu tiada yang abadi
Menangislah akan dosa, mungkinkah terampuni
Sedangkan noda daki di hati kian menumpuk
Pada puisi kutumpahkan sesalan
Pada doa kularung kesalahan
Pada kekasih membawa rindu
Semoga yang dicintai sudi bertamu
Kekasih, kumerinduimu
Peluklah bangkai ini, ampuni aku
Leburkan segala dosa yang ada
Tersenyumlah Dikau menyambutku nanti
HR RoS
Jakarta, 23/03/2017
Rabu, 22 Maret 2017
Cerpen
#Cerpen
KABUS RINDU DI PANTAI SABAH
Penulis: Romy Sastra II
Senja itu,
siluet perlahan redup tertutup kabut pada bayangan awan hitam melingkup mayapada di pantai Sabah.
Nun yang jauh di ujung negeri Borneo, di pantai Rang Bulan, tepatnya di pantai kota Belud tepian selat Philipina, dua insan berkasih sayang anak dan ibundanya, memandu kehidupan dengan suka duka semenjak ditinggal oleh tongkat harapan masa depan belahan jiwanya yang lebih dulu pergi ke haribaan Illahi, yang ia telah lama bersemayam di nisan sunyi dalam dekade yang berlalu.
"Kring... kring... kring....
Suara telepon dari dalam tas Irwan berbunyi, spontan Irwan buka tas dan mengambil handphone yang disimpan di dalam tasnya. Kebetulan Irwan lagi berada di suatu pesisir pantai Jakarta, tengah asyik memancing mencari hiburan masa istirahat, menghilangkan penat dalam berniaga sehari-hari.
Sekejap Irwan tertegun, ternyata ada call mesenger yang masuk, tertulis nama Laila. Hati Irwan serasa tak percaya, kalau Laila nelpon Irwan tiba-tiba. Padahal lama sudah Irwan tak berkomunikasi dengan Laila.
Klik....
"Assalamualaikum... salam dari Irwan. "Waalaikumsalam ...jawaban Laila.
"Halo... ini Laila ya?
"Iya ...abang.
jawab Laila seketika.
Tumben dikau call abang Laila.
Sahut Irwan dalam percakapan lebih awal.
Kenapa memangnya abang?
"Jawaban Laila dalam nada penasaran"
tak bolehkah saya callmu abang?"
"Boleh saja Laila, masa sih tak boleh.
"Oya, Laila?" Adakah dikau sehat-sehat saja, dan juga, bagaimana keadaan anak-anakmu serta ibundamu di sana?" Apakah mereka baik-baik saja.
"Alhamdulillah abang, kami baik-baik saja di sini. Jawab Laila di ujung nada teleponnya.
"Dan abang, bagaimana keadaannya di Jakarta bersama istri dan anak-anakmu abang?"
Kembali Laila bertanya tentang keadaan Irwan mantan kekasih Laila itu.
(Sedangkan Irwan sendiri sebetulnya telah berumah tangga)
"Alhamdulillah juga Laila, abang sekeluarga baik-baik saja kok di sini.
Percakapan di telepon itu berakhir dengan bla bla blaaa....
Karena Irwan telah lama berpisah sebagai pasangan kekasih dunia maya bersama Laila.
*****
Kabus rindu di pantai Sabah, tersirat dari rona kanvas hantaran gambar pada sampul ruang Facebook Laila.
Sosok dua insan berjalan di atas pasir putih menuju riak mendebur pantai yang sunyi, bergandeng berdua dengan si Putri anak semata wayangnya.
Sekejap Irwan tertegun mengamati dengan bahasa imaji. Bahwa ada seekor merpati dari jauh yang tak mampu hinggap ke sebatang pohon nan rindang di tepi pantai itu.
Putri dan Laila sang ibunya, ia bertongkat semangat dengan satu kaki berjalan. Tak ada pemandu seorang ayah menuju samudra kehidupan, tuk berteduh pada sebatang pohon nan rindang yang telah asri disirami rintik-rintik rinai meneteskan kasih pada malam hari.
Pohon itu telah subur dan indah,
ia adalah isyarat sepoinya hembusan angin pada curahan rasa rindu dalam telp angin mesra berbagai percakapan mesenger bersama merpati-merpati yang lain.
Apakah ia hanya penghibur saja, dan ataukah Tuhan telah menghantarkan kekasih yang baik tuk mengisi relung hati Laila yang selama ini sepi sepeninggal sang suami ke alam keabadian. Apakah merpati yang lain itu lebih berjaya tuk mampu terbang demi melanjutkan noktah hidup si Laila itu. Uhh, entahlah.
Dalam hati si merpati yang patah sayap tercabut oleh desau pilu pada angin nan tak bersahabat yang ia enggan hinggap kepada pohon itu. Hanya mampu berdoa saja: ya Allah, berikan kehidupan yang subur dan indah untuk hidup yang terbaik buat pohon gersang itu selama ini, supaya hidupnya kokoh tumbuh pada cabaran gersang nan melanda sepeninggal yang pernah menyirami, diganti oleh sosok merpati yang sejati. Yang ia selama ini ada dalam kebimbangan dan terbuai harapan-harapan kosong belaka. Oleh camar-camar liar di pantai Sabah.
"Dalam doa sang merpati yang ikhlas."
Itulah yang dicerna dari merpati yang enggan terbang pada pohon itu, bahwa ia mengisyaratkan, ada sudah merpati yang lain sebagai penghibur tumbuhnya pohon yang hidup di tepi pantai, dalam riak-riak angin dan gelombang yang gelisah selama ini, semenjak berakhir badai pada kisah ikrar merpati dari seberang yang tak ingin ingkar janji.
Memang Laila telah berpisah dengan Irwan dari seberang, tapi hubungan perasaan dalam pertemanan tetap terjaga hingga kini, meski hubungan komunikasi selalu pasang surut.
Kini, dalam hati Irwan, ia berdoa. Semoga Laila segera mendapatkan pasangan hidup dunia sampai akhirat. Sebagai pengganti suaminya Laila, estafet janji almarhum di masa menjalin cinta menuju bahtera sampai tua berlabuh di depan penghulu. Yang ia suaminya Laila telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Dan harapnya Irwan lagi, buat Laila. Hati-hatilah memilih pasangan, Semoga Tuhan mengirimkan jodoh untukmu sebagai imam dalam keluarga besar Laila di sana. Didiklah anak-anak dan cucu yang mulai tumbuh remaja, tuk bisa mandiri menghadapi laju kehidupan buat masa depannya nanti.
Selesai
HR RoS
Jakarta, 22/03/2017
KABUS RINDU DI PANTAI SABAH
Penulis: Romy Sastra II
Senja itu,
siluet perlahan redup tertutup kabut pada bayangan awan hitam melingkup mayapada di pantai Sabah.
Nun yang jauh di ujung negeri Borneo, di pantai Rang Bulan, tepatnya di pantai kota Belud tepian selat Philipina, dua insan berkasih sayang anak dan ibundanya, memandu kehidupan dengan suka duka semenjak ditinggal oleh tongkat harapan masa depan belahan jiwanya yang lebih dulu pergi ke haribaan Illahi, yang ia telah lama bersemayam di nisan sunyi dalam dekade yang berlalu.
"Kring... kring... kring....
Suara telepon dari dalam tas Irwan berbunyi, spontan Irwan buka tas dan mengambil handphone yang disimpan di dalam tasnya. Kebetulan Irwan lagi berada di suatu pesisir pantai Jakarta, tengah asyik memancing mencari hiburan masa istirahat, menghilangkan penat dalam berniaga sehari-hari.
Sekejap Irwan tertegun, ternyata ada call mesenger yang masuk, tertulis nama Laila. Hati Irwan serasa tak percaya, kalau Laila nelpon Irwan tiba-tiba. Padahal lama sudah Irwan tak berkomunikasi dengan Laila.
Klik....
"Assalamualaikum... salam dari Irwan. "Waalaikumsalam ...jawaban Laila.
"Halo... ini Laila ya?
"Iya ...abang.
jawab Laila seketika.
Tumben dikau call abang Laila.
Sahut Irwan dalam percakapan lebih awal.
Kenapa memangnya abang?
"Jawaban Laila dalam nada penasaran"
tak bolehkah saya callmu abang?"
"Boleh saja Laila, masa sih tak boleh.
"Oya, Laila?" Adakah dikau sehat-sehat saja, dan juga, bagaimana keadaan anak-anakmu serta ibundamu di sana?" Apakah mereka baik-baik saja.
"Alhamdulillah abang, kami baik-baik saja di sini. Jawab Laila di ujung nada teleponnya.
"Dan abang, bagaimana keadaannya di Jakarta bersama istri dan anak-anakmu abang?"
Kembali Laila bertanya tentang keadaan Irwan mantan kekasih Laila itu.
(Sedangkan Irwan sendiri sebetulnya telah berumah tangga)
"Alhamdulillah juga Laila, abang sekeluarga baik-baik saja kok di sini.
Percakapan di telepon itu berakhir dengan bla bla blaaa....
Karena Irwan telah lama berpisah sebagai pasangan kekasih dunia maya bersama Laila.
*****
Kabus rindu di pantai Sabah, tersirat dari rona kanvas hantaran gambar pada sampul ruang Facebook Laila.
Sosok dua insan berjalan di atas pasir putih menuju riak mendebur pantai yang sunyi, bergandeng berdua dengan si Putri anak semata wayangnya.
Sekejap Irwan tertegun mengamati dengan bahasa imaji. Bahwa ada seekor merpati dari jauh yang tak mampu hinggap ke sebatang pohon nan rindang di tepi pantai itu.
Putri dan Laila sang ibunya, ia bertongkat semangat dengan satu kaki berjalan. Tak ada pemandu seorang ayah menuju samudra kehidupan, tuk berteduh pada sebatang pohon nan rindang yang telah asri disirami rintik-rintik rinai meneteskan kasih pada malam hari.
Pohon itu telah subur dan indah,
ia adalah isyarat sepoinya hembusan angin pada curahan rasa rindu dalam telp angin mesra berbagai percakapan mesenger bersama merpati-merpati yang lain.
Apakah ia hanya penghibur saja, dan ataukah Tuhan telah menghantarkan kekasih yang baik tuk mengisi relung hati Laila yang selama ini sepi sepeninggal sang suami ke alam keabadian. Apakah merpati yang lain itu lebih berjaya tuk mampu terbang demi melanjutkan noktah hidup si Laila itu. Uhh, entahlah.
Dalam hati si merpati yang patah sayap tercabut oleh desau pilu pada angin nan tak bersahabat yang ia enggan hinggap kepada pohon itu. Hanya mampu berdoa saja: ya Allah, berikan kehidupan yang subur dan indah untuk hidup yang terbaik buat pohon gersang itu selama ini, supaya hidupnya kokoh tumbuh pada cabaran gersang nan melanda sepeninggal yang pernah menyirami, diganti oleh sosok merpati yang sejati. Yang ia selama ini ada dalam kebimbangan dan terbuai harapan-harapan kosong belaka. Oleh camar-camar liar di pantai Sabah.
"Dalam doa sang merpati yang ikhlas."
Itulah yang dicerna dari merpati yang enggan terbang pada pohon itu, bahwa ia mengisyaratkan, ada sudah merpati yang lain sebagai penghibur tumbuhnya pohon yang hidup di tepi pantai, dalam riak-riak angin dan gelombang yang gelisah selama ini, semenjak berakhir badai pada kisah ikrar merpati dari seberang yang tak ingin ingkar janji.
Memang Laila telah berpisah dengan Irwan dari seberang, tapi hubungan perasaan dalam pertemanan tetap terjaga hingga kini, meski hubungan komunikasi selalu pasang surut.
Kini, dalam hati Irwan, ia berdoa. Semoga Laila segera mendapatkan pasangan hidup dunia sampai akhirat. Sebagai pengganti suaminya Laila, estafet janji almarhum di masa menjalin cinta menuju bahtera sampai tua berlabuh di depan penghulu. Yang ia suaminya Laila telah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
Dan harapnya Irwan lagi, buat Laila. Hati-hatilah memilih pasangan, Semoga Tuhan mengirimkan jodoh untukmu sebagai imam dalam keluarga besar Laila di sana. Didiklah anak-anak dan cucu yang mulai tumbuh remaja, tuk bisa mandiri menghadapi laju kehidupan buat masa depannya nanti.
Selesai
HR RoS
Jakarta, 22/03/2017
Selasa, 21 Maret 2017
Kwatrin
#Kwatrin
TAFAKURNYA SANG MUSYAFIR
Telah aku kelilingi dunia, mencari-Nya
Di berbagai persinggahan bertanya
Di mana pintu istana maha kekasih berada
Semua diam tak mengerti, tunggu saja hidayah
Bertanya kepada angin
Sepoinya melenakan tubuh, mata terkantuk dingin
Debu-debu diterbangkan tutupi wajah ini
Di liang rongga ia memuji
Bertanya kepada langit
Jangan tatap dadaku, di hati yang sempit
Bulan, bintang, matahari, mereka semua bersujud
Merunduklah! Pintu langit ada dalam tafakur hubud
Bertanya kepada hamparan terbentang
Pasrah tak menuntut jera, jerih, lelah dan senang
Ia berbisik pada pasir-pasir terpijak
Di tubuhmu pagar istana kekasih berada, tampak
Bertanya kepada samudera
Riak-riaknya melambai seperti bayangan cinta
Jangan menatap nun di kejauhan
Telanjangilah jiwamu, selami kedalaman
Terdiam sejenak merenungi diri
Yang dicari sesungguhnya tak jauh dari hati
Cukup bertanya pada rasa, mursyid tutupi
Istana kekasih itu, pintunya ada pada kematian di dalam hidup ini
HR RoS
Jakarta, 20/03/2017
TAFAKURNYA SANG MUSYAFIR
Telah aku kelilingi dunia, mencari-Nya
Di berbagai persinggahan bertanya
Di mana pintu istana maha kekasih berada
Semua diam tak mengerti, tunggu saja hidayah
Bertanya kepada angin
Sepoinya melenakan tubuh, mata terkantuk dingin
Debu-debu diterbangkan tutupi wajah ini
Di liang rongga ia memuji
Bertanya kepada langit
Jangan tatap dadaku, di hati yang sempit
Bulan, bintang, matahari, mereka semua bersujud
Merunduklah! Pintu langit ada dalam tafakur hubud
Bertanya kepada hamparan terbentang
Pasrah tak menuntut jera, jerih, lelah dan senang
Ia berbisik pada pasir-pasir terpijak
Di tubuhmu pagar istana kekasih berada, tampak
Bertanya kepada samudera
Riak-riaknya melambai seperti bayangan cinta
Jangan menatap nun di kejauhan
Telanjangilah jiwamu, selami kedalaman
Terdiam sejenak merenungi diri
Yang dicari sesungguhnya tak jauh dari hati
Cukup bertanya pada rasa, mursyid tutupi
Istana kekasih itu, pintunya ada pada kematian di dalam hidup ini
HR RoS
Jakarta, 20/03/2017
Langganan:
Postingan (Atom)