#KWATRIN
KEMATIAN HAK YANG KURINDU
Karya Romy Sastra II
Bias-bias pikir terkikis, pesimis
Gontai langkah diri menghalau ironis
Menggapai cinta Ilahi, mestilah optimis
Buang keraguan di dada tempat sarangnya Iblis
Dalam religi, aku pamit
Pergi berkelana ke alam yang tak sempit
Berkuda jiwa berkomat-kamit
Terbang melayang menuju langit
Aku pergi jauh dari pergulatan dunia
Meninggalkan sermonial cinta, mencari Maha cinta
Kutempa kearifan jiwa pada nafsu hina
Pergi memamah cinta dalam fananya sukma
Diri mengejar asa terkadang tersesat, menyesatkan
Pada rayuan dunia, yang sejati terlupakan
Menangis sedih mengingat kematian
Sedangkan el-maut masih dalam perjalanan
Bila malam-malam rindu duduk sendiri
Mencari kematian diri yang hakiki
Langit pat gulipat kututup rapat-rapat
Jangan ada nada-nada puji yang tersekat
Kebisingan sami' menggema, bak lonceng berbunyi
Asyik bersunyi membubung arasy lafaz terhenti
Hati berbisik bashir kututupi
Matilah aku di dalam sunyi
Alam malam dalam kegelapan
Hening menempuh kematian
Kematian di dalam kehidupan
Sungguh malam itu lebih baik dari malam seribu bulan
Berjalan bak kilat ke dinding misykat
Kupapah jiwa bersama rasa, mengikat kuat
Menyatu bersama unsurku dalam syahadat
Larut melebur ke istananing Dzat
Tak kubawa makhota mewah
Hanya menggendong sebait megah
Bergandeng tangan dengan rasulullah
berputar mengelilingi Baitullah
Tak dapat pelita di tungku perapian rasa
Tak kutemukan cahaya-Nya di sang surya
Tak menerangi lilin di milad usia
Tak pesona ceria di glamournya pesta
Pesta itu anggun tak berpenonton riuh
Sorotan lampu panggung silau menipu ruh
Karena sang opera pertunjukan dungu
Tertipu pada rindu-rindu semu
Sesungguhnya, aku menemukan cinta
Di dalam kematian rasa
Mati dalam hayat, bukan kifayah
Lenyap ke dalam fardhu 'ain, fitrah
Perjalanan sufi berakhir suci
Sebuah pertemuan realita cinta yang dicari
khair di kasyaf hati, wilayah rahmat ilmu laduni
bersama-Mu, aku bahagia sekali
HR RoS
Jakarta, 12,05,2017
Jumat, 12 Mei 2017
Kamis, 11 Mei 2017
KA'BAH ITU TERNYATA WAJAHKU
Karya Romy Sastra
kuhamparkan sajadah cinta
berdiri menyebut nama-Mu
menatap ke dalam fana
khusyu' berjubah takbir
memanggil yang tak tampak
bersembunyi di dalam jiwa ini
kukhusyu'kan pikiran, memandu kalbu
menutup nafsu, membuka tirai-tirai itu
pasrahkan jiwa raga,
menghantarkan wejangan rindu
pada kifayah, ibadah sholat lima waktu
ruku' sujudkan tubuh,
tak jua temukan engkau cinta
telah aku serahkan segalanya
pada sholat fardhu,
berharap engkau menerimaku,
tetap saja masih membisu
kututup nafsu,
kubuka pintu kematian,
ka'bah itu ternyata wajahku
baitullah itu tubuhku
batu hitam adalah hatiku
dalam fana kematian di dalam hidup
ternyata jiwa ini
telah diselimuti dengan cahaya bermegah
Di sanalah aku menemukan baitul makmur menara iman itu
inilah sholat yang tak tersia-siakan
datang membawah cinta,
berharap kekasih mencintai juga
"ya Rabb"
mahabbahkanlah cinta-Mu
dalam kelemahan dan kebodohan diri
pelitakanlah jubah insani yang diridhoi
ampunilah segala dosa-dosaku
terimalah kehadiranku ini
meski aku datang membawa noda
siramilah dengan madu mahabbah-Mu
aku ingin belajar menjadi pencinta sejati
dalam kelemahan takwa,
semogalah ibadahku dicintai
HR RoS
Jakarta, 11092016
Karya Romy Sastra
kuhamparkan sajadah cinta
berdiri menyebut nama-Mu
menatap ke dalam fana
khusyu' berjubah takbir
memanggil yang tak tampak
bersembunyi di dalam jiwa ini
kukhusyu'kan pikiran, memandu kalbu
menutup nafsu, membuka tirai-tirai itu
pasrahkan jiwa raga,
menghantarkan wejangan rindu
pada kifayah, ibadah sholat lima waktu
ruku' sujudkan tubuh,
tak jua temukan engkau cinta
telah aku serahkan segalanya
pada sholat fardhu,
berharap engkau menerimaku,
tetap saja masih membisu
kututup nafsu,
kubuka pintu kematian,
ka'bah itu ternyata wajahku
baitullah itu tubuhku
batu hitam adalah hatiku
dalam fana kematian di dalam hidup
ternyata jiwa ini
telah diselimuti dengan cahaya bermegah
Di sanalah aku menemukan baitul makmur menara iman itu
inilah sholat yang tak tersia-siakan
datang membawah cinta,
berharap kekasih mencintai juga
"ya Rabb"
mahabbahkanlah cinta-Mu
dalam kelemahan dan kebodohan diri
pelitakanlah jubah insani yang diridhoi
ampunilah segala dosa-dosaku
terimalah kehadiranku ini
meski aku datang membawa noda
siramilah dengan madu mahabbah-Mu
aku ingin belajar menjadi pencinta sejati
dalam kelemahan takwa,
semogalah ibadahku dicintai
HR RoS
Jakarta, 11092016
Puisi Sufi
BAYU KAU NAPAS SYURGA ITU
Karya Romy Sastra
semilir ilir mengukir syair
tatapan syahdu
dendangkan kidung bisu
siulan bernada cinta dari liang rongga
melelapkan kenari yang lagi bernyanyi
bayu, kau napas syurga itu
tercipta dari rasa taman mutmainah
bila padang gersang
akan subur dari nada nada siul senja
bertakbir menatap langit
berkumpul sujud di rumah qulhu
napas syurga itu,
dari langit-langit rongga menyeru
Ya, Hu... ya, Hu ....
seruan detak jantung dan nadi
berkoloni memompa napas hari
memandu hayat pada puji itu
melipat dunia dari nafsu tercela
hening ke mata hati
melaju ke gunung thursina
di antara dua rongga goa
di ka'bahtullah
bayu, kau napas itu
bila mamiri hadir menyejukkan hati
terlena pada hembusan kekasih,
jikalau ribut pada kabut
kau merusak alam ini
bayu napas kehidupan yang melaju pergi
bertamu silih berganti
datang dan kembali
bayu kehidupan dikawal israil dan israfil
sang pencabut yang mengigil
hancur lulu lantak menyisakan debu,
ketika sang napas sudah sampai
di penghujung jalan itu
berakhir sudah opera cinta dunia
pada amanah yang tertitipkan di rumah dunia
HR RoS
Jakarta, 11-9-2016, 14,23
Karya Romy Sastra
semilir ilir mengukir syair
tatapan syahdu
dendangkan kidung bisu
siulan bernada cinta dari liang rongga
melelapkan kenari yang lagi bernyanyi
bayu, kau napas syurga itu
tercipta dari rasa taman mutmainah
bila padang gersang
akan subur dari nada nada siul senja
bertakbir menatap langit
berkumpul sujud di rumah qulhu
napas syurga itu,
dari langit-langit rongga menyeru
Ya, Hu... ya, Hu ....
seruan detak jantung dan nadi
berkoloni memompa napas hari
memandu hayat pada puji itu
melipat dunia dari nafsu tercela
hening ke mata hati
melaju ke gunung thursina
di antara dua rongga goa
di ka'bahtullah
bayu, kau napas itu
bila mamiri hadir menyejukkan hati
terlena pada hembusan kekasih,
jikalau ribut pada kabut
kau merusak alam ini
bayu napas kehidupan yang melaju pergi
bertamu silih berganti
datang dan kembali
bayu kehidupan dikawal israil dan israfil
sang pencabut yang mengigil
hancur lulu lantak menyisakan debu,
ketika sang napas sudah sampai
di penghujung jalan itu
berakhir sudah opera cinta dunia
pada amanah yang tertitipkan di rumah dunia
HR RoS
Jakarta, 11-9-2016, 14,23
Senin, 08 Mei 2017
Puisi bisu
SEPERTI BISU BERMIMPI
By Romy Sastra
lamunan diri dibisikkan tutur bisu
dengan aksara yang tak meng-eja
berbisik seperti dalam mimpi
melekat tutur ke daun telinga
tak jua tahu makna rasa
mengartikan sendiri dengan teliti
semakin tak mengerti yang di-eja
makna aksara bisu terpana dungu
kerdip kening semakin tak menentu
berlalu tinggalkan sepi
mengayuh biduk jauh melaju
menuju samudera biru
bercerita bersama ombak
dinyanyikan sejuta bahasa riak
tak terasa pendayung patah
telah rapuh digilas waktu
ke mana arah kan dituju, bingung sudah
pasrah pada takdir
berharap pelayaran kembali ke darat
akhirnya takdir menentukan keselamatan
sesampai di tepian
telah kembali ke pantai
jejaki pasir mengitari bibir pantai
gemulai langkah bercampur aduk
dengan galian ambai-ambai
jejak langkah tergerus riak malangnya nasib tak terurai
"Aahh ... berharap,
jejak kaki kokoh melukis tarian diri
berkicaunya sriti dan camar menari bernyanyi menghalau sepi
tak jua mampu mengusir sedih
"uuuhhh ...
ombak pantai kian melabuh gemuruh
jiwa yang telah resah semakin rusuh
berteriak sejadi-jadinya
sang kicauan akhirnya terbang menjauh
berlalu jauh dan jauuuhh
ke pulau yang tak berpenunggu
menggenggam setitik riak laut
kukecup
berharap dahagaku lebur
asin itu terasa madu
mencoba menanam bunga di jambangan
disiram rintik gerimis malam
pagi kulirik
bunga di jambangan hati
layu sebelum berkembang
"aahhh ... bunga di taman hati
tanah tandus gersang bermain hari
berguru kepada tegarnya ilalang
hidup di bumi kering terbakar api
ilalang tak tersiram embun
tetap siklus tunas muda berpucuk silih berganti
aku sang pemerhati mimpi
mencoba menterjemahkan arti
akankah mawar beduri
mampu mengikrar noktah
berkawan merpati merengkuh janji
pada larik puisi ini mengetuk rasa cinta
pada sesiapa yang merasa tak bisu ....
HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 09,02
By Romy Sastra
lamunan diri dibisikkan tutur bisu
dengan aksara yang tak meng-eja
berbisik seperti dalam mimpi
melekat tutur ke daun telinga
tak jua tahu makna rasa
mengartikan sendiri dengan teliti
semakin tak mengerti yang di-eja
makna aksara bisu terpana dungu
kerdip kening semakin tak menentu
berlalu tinggalkan sepi
mengayuh biduk jauh melaju
menuju samudera biru
bercerita bersama ombak
dinyanyikan sejuta bahasa riak
tak terasa pendayung patah
telah rapuh digilas waktu
ke mana arah kan dituju, bingung sudah
pasrah pada takdir
berharap pelayaran kembali ke darat
akhirnya takdir menentukan keselamatan
sesampai di tepian
telah kembali ke pantai
jejaki pasir mengitari bibir pantai
gemulai langkah bercampur aduk
dengan galian ambai-ambai
jejak langkah tergerus riak malangnya nasib tak terurai
"Aahh ... berharap,
jejak kaki kokoh melukis tarian diri
berkicaunya sriti dan camar menari bernyanyi menghalau sepi
tak jua mampu mengusir sedih
"uuuhhh ...
ombak pantai kian melabuh gemuruh
jiwa yang telah resah semakin rusuh
berteriak sejadi-jadinya
sang kicauan akhirnya terbang menjauh
berlalu jauh dan jauuuhh
ke pulau yang tak berpenunggu
menggenggam setitik riak laut
kukecup
berharap dahagaku lebur
asin itu terasa madu
mencoba menanam bunga di jambangan
disiram rintik gerimis malam
pagi kulirik
bunga di jambangan hati
layu sebelum berkembang
"aahhh ... bunga di taman hati
tanah tandus gersang bermain hari
berguru kepada tegarnya ilalang
hidup di bumi kering terbakar api
ilalang tak tersiram embun
tetap siklus tunas muda berpucuk silih berganti
aku sang pemerhati mimpi
mencoba menterjemahkan arti
akankah mawar beduri
mampu mengikrar noktah
berkawan merpati merengkuh janji
pada larik puisi ini mengetuk rasa cinta
pada sesiapa yang merasa tak bisu ....
HR RoS
Jakarta, 23-10-2015, 09,02
Minggu, 07 Mei 2017
Prosaliris
BIBIT PENCINTA NAN AGUNG MENYESALI
Karya Romy Sastra II
azali cinta,
berjubah kasih mencurah rindu
pada kasta jiwa mengenal budi
antara terhijab dan nyata
tetap mendapatkan tempat berpayung rasa
kala hujan basah berselimut embun
andai kehausan,
panas bergelora kekeringan tersenyum
rumput-rumput bergoyang
lambaikan kedamaian
tertitip bayu merona syahdu
sempurnanya ciptaan Tuhanku
para pencinta nan agung
sampai saat ini masih memuji rindu, bertasbih
semenjak sabda tercipta
sedetik pun tak alpa
Tuhan ciptakan surga nan indah
fitrah maha kekasih 'tuk sang khalifah
Tuhan ciptakan neraka sebagai peringatan
anai-anai melubangi urat nadi
menyemai syahwat membuai tangkai
sepoi diayun bayu rayu, kebiri janji Ilahi
merayu menggoda rasa hina
pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah
terpesona sudah dengan payet-payet indah
membuai asmara kasih
asyik memadu rindu
bak kumbang mengisap madu kembang
tak sadarkan diri,
terkutuk sudah dari Ilahi
menjerit menyesali tercampak ke mayapada
sepanjang tahun sepi seorang
lara hiba menghunus pedang doa
berlari di malam buta antara Safa dan Marwa
mengetuk pintu arasy sang Maha bermain dalang
doa dipanjatkan,
rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin
duhai ... cinta, belahan jiwa
di manakah kini kau berada?"
kembalilah mengisi sepiku
tandus haus lara lelah mencarimu
Engkau Tuhan, yang kusembah
nan bersemayam dalam angan kedunguanku
hamba memohon, ampuni kesalahan kami
bodohnya hamba terlena tergerus goda Iblis
Engkau Tuhan, nan bertahta di jiwa ini
bukalah pintu rahmatMu kembali
hibalah,
hamba menyesali diri sepanjang hari
bersenandung lara, karena kesalahan ini
Engkau maha pengampun,
maka ampunilah kami
Engkau mencipta yang nyata dan yang batin
tak terpikirkan olehku
Engkau ada di hati ini
kenapa iman diri kulengahkan
memang, hamba telah tertipu rayu
sabda sang utusan uluk salam
kala fajar berseru"
wahai jiwa nan lara,
sujudkan ragamu menyapa tanah
meski tandus ia suci
cikal bakal terdirinya jasad itu
rengkuhlah doa debu-debu malam
bertayamum suci menyapu bulir yang menetes
buang jauh-jauh nebula rayu di pohon itu
dekaplah lafaz-lafaz hiba mohon ampun
biar tercurah kasih sayangNya
allahu akbar,
salam terucap kanan dan kiri
salamun kaulam mirrabirrahim
terbentang kembali keindahan semu
tentang tirani hidup,
akan membentang panjang,
sampai dunia ini tertutup
hadir sang kekasih yang dirindui
sang kekasih menyapa di antara fajar
fajar akan berlalu pergi
berganti pelita dunia
pertemuan membuncah haru
tangis rindu membangunkan fijar-fijar mentari
bibit dunia pencinta nan agung berbahagia
bertemu sudah pada yang didamba
berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi 'tuk selamanya
#history_Adam_Hawa
HR RoS
Jakarta, 07,05,17
Karya Romy Sastra II
azali cinta,
berjubah kasih mencurah rindu
pada kasta jiwa mengenal budi
antara terhijab dan nyata
tetap mendapatkan tempat berpayung rasa
kala hujan basah berselimut embun
andai kehausan,
panas bergelora kekeringan tersenyum
rumput-rumput bergoyang
lambaikan kedamaian
tertitip bayu merona syahdu
sempurnanya ciptaan Tuhanku
para pencinta nan agung
sampai saat ini masih memuji rindu, bertasbih
semenjak sabda tercipta
sedetik pun tak alpa
Tuhan ciptakan surga nan indah
fitrah maha kekasih 'tuk sang khalifah
Tuhan ciptakan neraka sebagai peringatan
anai-anai melubangi urat nadi
menyemai syahwat membuai tangkai
sepoi diayun bayu rayu, kebiri janji Ilahi
merayu menggoda rasa hina
pucuk-pucuk melambai tebarkan gairah
terpesona sudah dengan payet-payet indah
membuai asmara kasih
asyik memadu rindu
bak kumbang mengisap madu kembang
tak sadarkan diri,
terkutuk sudah dari Ilahi
menjerit menyesali tercampak ke mayapada
sepanjang tahun sepi seorang
lara hiba menghunus pedang doa
berlari di malam buta antara Safa dan Marwa
mengetuk pintu arasy sang Maha bermain dalang
doa dipanjatkan,
rabbanaa zolamnaa amfusanaa wailam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunanna minal koosirin
duhai ... cinta, belahan jiwa
di manakah kini kau berada?"
kembalilah mengisi sepiku
tandus haus lara lelah mencarimu
Engkau Tuhan, yang kusembah
nan bersemayam dalam angan kedunguanku
hamba memohon, ampuni kesalahan kami
bodohnya hamba terlena tergerus goda Iblis
Engkau Tuhan, nan bertahta di jiwa ini
bukalah pintu rahmatMu kembali
hibalah,
hamba menyesali diri sepanjang hari
bersenandung lara, karena kesalahan ini
Engkau maha pengampun,
maka ampunilah kami
Engkau mencipta yang nyata dan yang batin
tak terpikirkan olehku
Engkau ada di hati ini
kenapa iman diri kulengahkan
memang, hamba telah tertipu rayu
sabda sang utusan uluk salam
kala fajar berseru"
wahai jiwa nan lara,
sujudkan ragamu menyapa tanah
meski tandus ia suci
cikal bakal terdirinya jasad itu
rengkuhlah doa debu-debu malam
bertayamum suci menyapu bulir yang menetes
buang jauh-jauh nebula rayu di pohon itu
dekaplah lafaz-lafaz hiba mohon ampun
biar tercurah kasih sayangNya
allahu akbar,
salam terucap kanan dan kiri
salamun kaulam mirrabirrahim
terbentang kembali keindahan semu
tentang tirani hidup,
akan membentang panjang,
sampai dunia ini tertutup
hadir sang kekasih yang dirindui
sang kekasih menyapa di antara fajar
fajar akan berlalu pergi
berganti pelita dunia
pertemuan membuncah haru
tangis rindu membangunkan fijar-fijar mentari
bibit dunia pencinta nan agung berbahagia
bertemu sudah pada yang didamba
berkasih mesra serasa tak ingin berpisah lagi 'tuk selamanya
#history_Adam_Hawa
HR RoS
Jakarta, 07,05,17
Syair_Lara
Syair_lara
Adakah Pintu Maaf Bagiku
By Romy Sastra
"duhh, memori ....
masih pantaskah aku merindu?"
luka yang kutorehkan begitu dalam
berulam tikam
rindu yang kuhidangkan kini
seperti bercampur debu
senyuman yang kuhantarkan
telah hambar tak lagi dimaknakan
pelangi cinta yang dititipkan pudar warnanya
"kini ...
kesunyian menyapa rindu
bahagia telah tertutup kabut
wajah nan dulu manis tergurat sendu
kata-kata perpisahan itu
seringkali bergulir dari bibirmu dulu
dari titik kesalahanku yang tak kutahu
"ahh... lelah sudah menatap rindu, secercah senyum mesra di balik layar kaca
tak lagi bisa kutatap rona bahagia
bahkan senyap sudah menutup gita
kebahagiaan nan dulu indah telah pergi
berlalu membawa luka tak berdarah
lepas sudah genggaman jemari ini
kau titipkan aku di jalan berbatu
gersang sepi bisu kumalu
genggaman yang dulu mesra
kini bersimbah air mata
sakitnya luka kekasih, pedih
"ohh ... kasih,
maafkanlah aku sekali lagi."
aku mencoba belajar sabar dan sadar
menghalau yang tak biasa
dari minda yang berbuat lara
semoga maaf itu kau beri
ke mana sosok yang dulu menginspirasiku
mengisi kedewasaanku
tak lagi kutemui
dikau sungguh berarti
meski belum pernah kutemui
dalam syair ini,
setidaknya kau mengertilah
goresan luka lara
meski secercah senyum senja akan pergi
bias menutup jagad menyelimuti malam
tengelam dalam angan yang tak berkawan
menyapa dikau dalam sebak
masih adakah pintu maaf itu kau beri?"
HR RoS
Jakarta, 22-10-2015
Adakah Pintu Maaf Bagiku
By Romy Sastra
"duhh, memori ....
masih pantaskah aku merindu?"
luka yang kutorehkan begitu dalam
berulam tikam
rindu yang kuhidangkan kini
seperti bercampur debu
senyuman yang kuhantarkan
telah hambar tak lagi dimaknakan
pelangi cinta yang dititipkan pudar warnanya
"kini ...
kesunyian menyapa rindu
bahagia telah tertutup kabut
wajah nan dulu manis tergurat sendu
kata-kata perpisahan itu
seringkali bergulir dari bibirmu dulu
dari titik kesalahanku yang tak kutahu
"ahh... lelah sudah menatap rindu, secercah senyum mesra di balik layar kaca
tak lagi bisa kutatap rona bahagia
bahkan senyap sudah menutup gita
kebahagiaan nan dulu indah telah pergi
berlalu membawa luka tak berdarah
lepas sudah genggaman jemari ini
kau titipkan aku di jalan berbatu
gersang sepi bisu kumalu
genggaman yang dulu mesra
kini bersimbah air mata
sakitnya luka kekasih, pedih
"ohh ... kasih,
maafkanlah aku sekali lagi."
aku mencoba belajar sabar dan sadar
menghalau yang tak biasa
dari minda yang berbuat lara
semoga maaf itu kau beri
ke mana sosok yang dulu menginspirasiku
mengisi kedewasaanku
tak lagi kutemui
dikau sungguh berarti
meski belum pernah kutemui
dalam syair ini,
setidaknya kau mengertilah
goresan luka lara
meski secercah senyum senja akan pergi
bias menutup jagad menyelimuti malam
tengelam dalam angan yang tak berkawan
menyapa dikau dalam sebak
masih adakah pintu maaf itu kau beri?"
HR RoS
Jakarta, 22-10-2015
Sabtu, 06 Mei 2017
Prosaliris berbahasa Minang
#ragamkucindan
TAKBIR BUYA TAISAK DI HARI RAYO
Karya Romy Sastra
Jauh-jauh tabangnyo si burung bangau
namun hinggoknyo
yo ka kubangan juo
jauh-jauh bujang marantau
namun pulangnyo lai ka kampung halaman kito.
Karatau madang di hulu
babuah bungo balun
marantaulah bujang dahulu
di rumah paguno balun.
Lah jauh tabangnyo perjalanan
putera daerah mancari ilmu
lah tarang nagari di sabalah
lah silau mato mamandang nagari urang
nagari kito basilang sangketo
antah bilo katarangnyo.
Tadanga saluang kubalo di lereng bukiek
di rambang patang hari
sayuik-sayuik ganto padati
bansaik di badan
lah jadi pamenan diri.
Baurai isak tangieh ka dado
nasib si dagang malang
galeh takambang hujan tibo
sumarak Bayang Sani
di balai induak-induak kito
barabuik patang
manjalang sanjo hari.
Manangieh tapian bundo
anak nan ketek lah digadangkan
lah gadang dak kunjuang pulang
lah cadiek si bujang diasuh angku katik
babalieklah ka Bayang Sani
ramikan nagari kito.
Kinilah masonyo anak nan paguno
mambangun kampuang jo nagari
bia dak sio-sio jabatan disandang
selagi masih bafungsi
mambuek anak kamanakan bangga kini.
"Yuuukk...!"
Jadikan koto baru tanah religi
Bayang pado umumnyo
itu baru kujempol, salut kami.
Dangalah rintihan sayuik-sayuik sampai
kami menadah hibo
gemparkan Mesjid Jihad itu nanti
dengan orasi dakwah islami.
Mesjid kitolah asri buya
di jalan raya Bayang Sani
di bangun jo amal jariyah petani
tapi mesjid itu kosong
dengan cahaya pengetahuan ulama,
ulama itu di mano kini?!"
****
"Ooo ...buya?"
babalieklah ka nagari
doa kami menyertai kesehatanmu.
Katiko tanah merah tabantang
di nan langang
sasah mayit tibo kudian
indak katadanga lai rintihan misteri
ka mesjid Jihad itu nanti
maratok surang di kayu gadang
takana jaso bundo alun ditunaikan.
Pitaruahkan anak kamanakan
sarato umaik jo nagari
mahimbau jo hibo hati
babalieklah kanagari kito
bangun kampung halaman
basamo-samo kumbali
nanlah ditinggakan sedari dulu.
Nan cadiek panuntun sipandieh
nan cegak panuntun sitengkak
nan nyariang panunjuakan si pakak
nan tarang panuntun si buto
nan kayo tampek batenggang
nan bansaik jaan bahibo hati
nan pandieh pailah batanyo
ka tungku parapian buya kito
bia masak aieh tajarang.
Tamakan indak tasasali
taupek usah dicaraco
cukuik inok-inok palito hati
kok karuah aieh di hilieh
tolong janiehkan aieh di hulu
ampun baribu ampun ka nan kuaso
pinta jo pinto barilah maaf mamak kami
lah cegak sakiek di hati.
Bungo rampai alah tuangku serakkan
ka sarek pantun di nan rami
baguru ka padang data
dapek ruso balang kaki
baguru kapalang aja
bagai bungo kambang tak jadi
balaieh sampai ka pulau
bajalan sampai ka bateh
batanyo ka nan tahu
manuntuik kaji kapado ahlinyo
apa kaji dek diulang
pasa jalan dek dituruik
mangaji sampai khatam
alam takambang jadi guru.
"Buya...?!"
Kami tunggu kesaksian khutbah ulama
di Mesjid Jihad Koto Baru Bayang
di hari rayo nanti.
Sang putera daerah berkumpul
DR Ahmad Kosasih
berharap khutbah takbir
balinang aieh mato di ranah bundo
bia talarai isak nan salamoko.
Salam santun dan hormat kami
dari anak kamanakan sarato umaik jo nagari.
HR RoS
Jakarta, 3-2-2016, 10,32
Langganan:
Postingan (Atom)