LONCENG KEMATIAN
Karya Romy Sastra
deru ruh gelisah diam membisu
kala takdir hayat terhenti pada janji
lonceng kematian akan tiba di liang rongga
lonceng tak berdenging diam sudah
satu persatu ruh di badan luruh
mendahului kematian segala tubuh
ruh tunggal akhir kepergian
meninggalkan bangkai
liang sami' sunyi
kelopak mata melotot
netra bathin tak lagi berkerlip
gunung thursina ciut kerontang
ari disentuh bak salju tergelincir pilu
dahaga alang kepalang meminta air idaman
selera makan lahap tak lagi tertelan
yang dimakan bayang-bayang
lonceng kematian menakutkan
el-maut tak kenal hiba
rupanya merontokkan bulu roma
kerjanya seperti menghempas gunung merapi
memuntahkan lahar ke segala nadi
takut, sungguh menakutkan
ke mana lolongan pedih berlari
se-isi bumi masa bodo
berharap tetesan doa ahlul bait membisik
tak jua tertolong
lonceng kematian tetap jua terjadi
HR RoS
Jakarta, 02012017
Sabtu, 08 April 2017
Kamis, 06 April 2017
#kwatrin
#kwatrin TAFAKUR
Romy Sastra II
Seberapa lama tarikh napas mengisi hari
Semenjak roh bersaksi akan mengabdi
Dari azali hingga kini dan nanti
Sadarilah, bahwa ia selalu memuji
Pada denyut nadi tarian diri
Jantung dan hati saling bernyanyi
Kenapa telinga tak mampu mendengar, apakah tuli
Sadarilah, dunia ini hanya igauan mimpi
Tafakurlah sejenak mengenang akhirat
Tersungkur menangis sekejap
Jalan pulang kian mendekat
Sadarilah, matahari sudah rebah ke barat
HR RoS
Jakarta, 06/04/2017
Romy Sastra II
Seberapa lama tarikh napas mengisi hari
Semenjak roh bersaksi akan mengabdi
Dari azali hingga kini dan nanti
Sadarilah, bahwa ia selalu memuji
Pada denyut nadi tarian diri
Jantung dan hati saling bernyanyi
Kenapa telinga tak mampu mendengar, apakah tuli
Sadarilah, dunia ini hanya igauan mimpi
Tafakurlah sejenak mengenang akhirat
Tersungkur menangis sekejap
Jalan pulang kian mendekat
Sadarilah, matahari sudah rebah ke barat
HR RoS
Jakarta, 06/04/2017
Rabu, 05 April 2017
Prosaliris
#repost
SURAT UNTUK PERANG DUNIA KETIGA
Romy Sastra II
Wahai penghuni bumi, sejarah telah mencatat, betapa kejamnya penjajahan itu.
Menderita kehidupan di bawah langit, kan kami rasakan nanti.
Dulu Nagasaki dan Hiroshima jadi abu,
Eropa, Asia, Afrika dan Amerika menderita. Dengan ongkos perang yang sangat mahal, kini tragedi itu kan kau ulangi lagi, ironis.
Di senja ini, aku menulis sinopsis history di balik negeri kota Ngawi, di sebuah lereng gunung Lawu menatap gersangnya bumi diselimuti iklim.
Telah tandus rerumputan di padang subur,
aku buka kunci memori dalam sejarah bangku study.
Aku simak dan kuperhatikan, betapa tragisnya sebuah sejarah di buku tua.
Tragis mencekam kala dunia ini perang lagi nanti. "Bila perang terjadi" jeritan tak lagi histeris, karena semuanya mati sekejap.
Ego dunia menerkam kedamaian
jantungku berdetak kencang, ketika selebrasi aksi teknologi diperagakan di pangkalan-pangkalan military di setiap bangsa.
Kau berdelik sebagai perisai diri,
padahal, akan membunuh kami dan generasi itu nanti.
Senjata-senjata yang akan kau muntahkan di pentas teknologi nuklir,
sebagai ajang unjuk gigi.
Akankah selebrasi itu potret membumi-hanguskan tanah- tanah ini kembali,
hingga ozon tak lagi menghidupkan makhluk bumi.
"Suratku buat yang bernurani"
oh, blok Barat dan blok Timur,
perangmu di ujung tanduk menakutkanku,
hipokrit perang bersorak di jantung kami.
Bolehkah aku usul sedikit?"
Berikan bumi ini senyuman kehidupan, perdamaian abadi di era teknologi ini. Sedangkan suara hak azasi manusia menggema di mana-mana dalam wadah cinta hanya seremonial saja.
Perserikatan Bangsa Bangsa,
bebaskan bumi ini dari penjajahan dunia dan genosida!
Kau lembaga mahkamah dunia
dalam perdamaian keadilan dan keamanan, di mana tanggung jawabmu sebagai security perdamaian dunia ini? "Ah...
kau seperti banci bersolek di senja hari,
berdandan rapi tapi tak punya nyali. Apakah lembagamu konspirasi tingkat tinggi sebagai homo homini lupus? Uuhh....
Suratku untuk perang dunia ketiga,
hentikan konfrontasi itu kini!!
bola api jangan kau nyalakan lagi di sana.
Ke mana kuda-kuda kami kan berpacu berlari bermain di rerumputan nan subur, derapnya jadi berdebu gersang alang kepalang, bisa jadi ia mati sebelum bercumbu dengan embun di atas daun-daun.
Akankah kami menerobos gelap
seperti malam padahal siang,
seakan gerhana matahari berkabut oleh kilatan nuklir di atas kepala ini, kami takut tuan-tuan.
Siang seperti malam, bak kilatan mendung halilintar riuh gemuruh mechiu mengharu biru.
Rintihan itu menakutkan jiwa kami
lolongan dan air mata duka kutadah di keranjang tua, dia meleleh di telapak tangan ini,
tak tertampung tumpah berserakan di tangan yang telah pasrah.
Kami takut tuan, layar bendera telah kau kibarkan.
Masinis kereta, driver tank baja,
kapten pilot jet tempur, telah bersiap siaga ke medan laga,
pelatuk senjata seketika dimuntahkan.
Rudal-rudal penghancur akan diluncurkan, meruntuhkan peradaban
bom pembunuh masal akan beraksi membunuh penduduk bumi
sekejap itu matilah kami seketika,
lolongan kematian tak terdengar lagi, panggung dunia usai sudah....
HR RoS
Ngawi, 5 April 2016 16:50
SURAT UNTUK PERANG DUNIA KETIGA
Romy Sastra II
Wahai penghuni bumi, sejarah telah mencatat, betapa kejamnya penjajahan itu.
Menderita kehidupan di bawah langit, kan kami rasakan nanti.
Dulu Nagasaki dan Hiroshima jadi abu,
Eropa, Asia, Afrika dan Amerika menderita. Dengan ongkos perang yang sangat mahal, kini tragedi itu kan kau ulangi lagi, ironis.
Di senja ini, aku menulis sinopsis history di balik negeri kota Ngawi, di sebuah lereng gunung Lawu menatap gersangnya bumi diselimuti iklim.
Telah tandus rerumputan di padang subur,
aku buka kunci memori dalam sejarah bangku study.
Aku simak dan kuperhatikan, betapa tragisnya sebuah sejarah di buku tua.
Tragis mencekam kala dunia ini perang lagi nanti. "Bila perang terjadi" jeritan tak lagi histeris, karena semuanya mati sekejap.
Ego dunia menerkam kedamaian
jantungku berdetak kencang, ketika selebrasi aksi teknologi diperagakan di pangkalan-pangkalan military di setiap bangsa.
Kau berdelik sebagai perisai diri,
padahal, akan membunuh kami dan generasi itu nanti.
Senjata-senjata yang akan kau muntahkan di pentas teknologi nuklir,
sebagai ajang unjuk gigi.
Akankah selebrasi itu potret membumi-hanguskan tanah- tanah ini kembali,
hingga ozon tak lagi menghidupkan makhluk bumi.
"Suratku buat yang bernurani"
oh, blok Barat dan blok Timur,
perangmu di ujung tanduk menakutkanku,
hipokrit perang bersorak di jantung kami.
Bolehkah aku usul sedikit?"
Berikan bumi ini senyuman kehidupan, perdamaian abadi di era teknologi ini. Sedangkan suara hak azasi manusia menggema di mana-mana dalam wadah cinta hanya seremonial saja.
Perserikatan Bangsa Bangsa,
bebaskan bumi ini dari penjajahan dunia dan genosida!
Kau lembaga mahkamah dunia
dalam perdamaian keadilan dan keamanan, di mana tanggung jawabmu sebagai security perdamaian dunia ini? "Ah...
kau seperti banci bersolek di senja hari,
berdandan rapi tapi tak punya nyali. Apakah lembagamu konspirasi tingkat tinggi sebagai homo homini lupus? Uuhh....
Suratku untuk perang dunia ketiga,
hentikan konfrontasi itu kini!!
bola api jangan kau nyalakan lagi di sana.
Ke mana kuda-kuda kami kan berpacu berlari bermain di rerumputan nan subur, derapnya jadi berdebu gersang alang kepalang, bisa jadi ia mati sebelum bercumbu dengan embun di atas daun-daun.
Akankah kami menerobos gelap
seperti malam padahal siang,
seakan gerhana matahari berkabut oleh kilatan nuklir di atas kepala ini, kami takut tuan-tuan.
Siang seperti malam, bak kilatan mendung halilintar riuh gemuruh mechiu mengharu biru.
Rintihan itu menakutkan jiwa kami
lolongan dan air mata duka kutadah di keranjang tua, dia meleleh di telapak tangan ini,
tak tertampung tumpah berserakan di tangan yang telah pasrah.
Kami takut tuan, layar bendera telah kau kibarkan.
Masinis kereta, driver tank baja,
kapten pilot jet tempur, telah bersiap siaga ke medan laga,
pelatuk senjata seketika dimuntahkan.
Rudal-rudal penghancur akan diluncurkan, meruntuhkan peradaban
bom pembunuh masal akan beraksi membunuh penduduk bumi
sekejap itu matilah kami seketika,
lolongan kematian tak terdengar lagi, panggung dunia usai sudah....
HR RoS
Ngawi, 5 April 2016 16:50
Selasa, 04 April 2017
Puisi
LAWAN PERUSAK ALAM
Romy Sastra II bersama Joko Gali
Kepada zaman nan bertopeng kemajuan
Pada tuan-tuan berdasi otak eksplorasi
Jangan ganggu kearifan alam
Pecundangi bumi eskploitasi kepentingan
Alam ini kehidupan regenerasi
Jangan dirikan geothermal delik kebutuhan
Otakmu licik merampas kesuburan
Dampak-dampak tak kau hiraukan lagi
Bumi Lawu kami lestarikan bersama
Akan dirusak oleh tangan-tangan penjajah
Gunung diam bukan dungu
Ia tertidur tak bisu jangan bangunkan
Jika terjaga digali, pondasi itu runtuh
Memuntahkan bencana di negeri Jawadwipa
Tidak untuk geothermal
Kami pagar hidup generasi leluhur itu
HR RoS
Jakarta, 04/04/2017
Romy Sastra II bersama Joko Gali
Kepada zaman nan bertopeng kemajuan
Pada tuan-tuan berdasi otak eksplorasi
Jangan ganggu kearifan alam
Pecundangi bumi eskploitasi kepentingan
Alam ini kehidupan regenerasi
Jangan dirikan geothermal delik kebutuhan
Otakmu licik merampas kesuburan
Dampak-dampak tak kau hiraukan lagi
Bumi Lawu kami lestarikan bersama
Akan dirusak oleh tangan-tangan penjajah
Gunung diam bukan dungu
Ia tertidur tak bisu jangan bangunkan
Jika terjaga digali, pondasi itu runtuh
Memuntahkan bencana di negeri Jawadwipa
Tidak untuk geothermal
Kami pagar hidup generasi leluhur itu
HR RoS
Jakarta, 04/04/2017
Senin, 03 April 2017
Puisi prosais
TINTA TERAKHIR UNTUKMU NONA
Oleh Romy Sastra II
Tinta merah menggores resah
Pada diksi kertas putih bernoda
Kanvas-kanvas tua hampir pudar warna
Melukis kasih sebagai tinta terakhir
Di peraduan mimpi selimut luka
Khayal ini terjaga
Menoleh lembaran-lembaran memori
Menatap jurang-jurang pemisah
Di antara nostalgia kisah Kasih
Kasih yang tak mungkin disulam kembali
History usang sudah
Tinta ini kian mengering
Tak lagi berwarna jingga telah bernoda darah
Kecewa yang menggunung
Jatuh terhempas ke lembah lara
Tinta terakhir ini
Kupersembahkan ke dalam syair
Menilai kearifan kekasih
"Ah... masih adakah rasa dikau untukku
Yang kokoh berdiri pada janji
Untuk memahami relung-relung takdir
Dari cabaran maruah cinta yang rela
Antara aku kau dia dan mereka
Tinta terakhirku ini kian memudar
Ketika kertas putih di albumku
Telah terkoyak berdebu cemburu
Yang tak bisa lagi melukis wajah rindu
Ter-iris sembilu tuduhan hipokrit cinta
Yang sesungguhnya
Bukanlah jubah pribadiku Nona
Diksi rasa cinta ini
Akan menutup lembaran biru
Lembaran hati telah beku
Tak lagi membimbing masa depan
Dari cabaran puisi yang kian tersisih
"Oh... Nona, aku memang masih di sini
Menatap menyirami bungamu nan indah
Dengan seteguk tirta maya cinta dalam bisu
Yang mengalir dari tetesan air mata rindu
Pertanda cinta ini masih ada
dan setia untukmu
Bila suatu masa jalinan kasihmu setia
Bernoktah cinta sepanjang hari
Hingga ikrar di depan penghulu
Setumpuk cabaran menjadi pelajaran
Tinta ini tak akan kuakhiri Nona
Walau mimpiku usai
Impian dan harapan terbengkalai
Daku tetap meraih obsesi dari sebuah mimpi
Jika malam tetap kau sinari
Meski mimpi-mimpi itu semu
Kan bias ditelan waktu
"Duhh ... taman khayalku merindu
Nan selalu melukis warna hati pada kekasih
Seperti indahnya pelangi jingga
Yang memerah di peraduan senja
Kusapa dikau cinta
Di kala senja hari
Adakah malam ini berpelita sinar purnama
Sedangkan malam ini
Musim masih saja berkabut
Aku serasa dibodohi si pungguk
Bermain rindu di dahan lapuk
Ketika bulan malu memadu rindu
Dikau hadirlah Nona!
Jangan pijar malam menjadi temaram
Jadilah sosok Juwita menari indah
Di dada langit
Kan menyinari pekatnya kabut buana
Daku tak lagi punya ruang
Tempat berlari mengejar bayanganmu
Tersenyum menatapmu yang jauh Yang bersandar di ranting bulan nan merindu
Meski kunang-kunang hatiku
Tak cukup mampu menerangi cinta
Di seantero mayapada
Dan terangi sukma pilu
Mengobati cerita terluka lara
Dalam kisah cinta yang tak nyata
Ketika tinta yang memudar ini masih tersisa
Yang akan melukis malam
Senyumlah!"
Pelita kecil itu janganlah sampai padam
Sedangkan dikau masih dalam genggaman
Embun rinduku
Yang selalu mencair di awal pagi
Menatap teriknya mentari siang tadi
Ketika senja tiba
Harapan pesimis memandang lembayung
Di tengah riak buih risau
Menitip kabar pada pelangi yang menepi
Ke telaga kasih nan membisu
Kabarku sama seperti yang berlalu
Aku masih mencintaimu, Nona
"Oh ... terik"
Laju sinarmu membakar langit
Hangatkan tubuhku sekejap saja!
Izinkan jejak ini menggapai obsesi hari
Senja telah tenggelam
Berharap, siluet cinta nan nyata merona
Pada keagungan Illahi Rabbi
Mendekap dalam doa-doa senja
Menitip sebait asma
"Berharap,"
cinta di hati ini janganlah redup
Aku masih seperti yang dulu yang kau rindu,
Memadah telepati dalam luah telik sandi
Meski menggores ayat-ayat pesimis
Jika kau tak lagi mengharap kehadiranku
Tak mengapa, aku juga rela
Pada tinta terakhir ini Nona
Tak jua dikau mengerti arti kekasih
Daku tak ingin jemari ini terhenti Menitip larik-larik puisi
Padamu Nona Maya si cemburu buta
Ketika goresan tintaku tak lagi dihargai
Dan tak lagi kau hantarkan warna ceria
Ke arena kanvas rupa rasaku
Yang mulai menipis di kertas putih
Karena rasaku semakin sepi
Semenjak ditinggal pergi
Pada bayangan mimpi kekasih
"Aahh ... mimpi.
Dikau paranoid tidur malamku ....
HR RoS
Jakarta, 03/04/2017
Oleh Romy Sastra II
Tinta merah menggores resah
Pada diksi kertas putih bernoda
Kanvas-kanvas tua hampir pudar warna
Melukis kasih sebagai tinta terakhir
Di peraduan mimpi selimut luka
Khayal ini terjaga
Menoleh lembaran-lembaran memori
Menatap jurang-jurang pemisah
Di antara nostalgia kisah Kasih
Kasih yang tak mungkin disulam kembali
History usang sudah
Tinta ini kian mengering
Tak lagi berwarna jingga telah bernoda darah
Kecewa yang menggunung
Jatuh terhempas ke lembah lara
Tinta terakhir ini
Kupersembahkan ke dalam syair
Menilai kearifan kekasih
"Ah... masih adakah rasa dikau untukku
Yang kokoh berdiri pada janji
Untuk memahami relung-relung takdir
Dari cabaran maruah cinta yang rela
Antara aku kau dia dan mereka
Tinta terakhirku ini kian memudar
Ketika kertas putih di albumku
Telah terkoyak berdebu cemburu
Yang tak bisa lagi melukis wajah rindu
Ter-iris sembilu tuduhan hipokrit cinta
Yang sesungguhnya
Bukanlah jubah pribadiku Nona
Diksi rasa cinta ini
Akan menutup lembaran biru
Lembaran hati telah beku
Tak lagi membimbing masa depan
Dari cabaran puisi yang kian tersisih
"Oh... Nona, aku memang masih di sini
Menatap menyirami bungamu nan indah
Dengan seteguk tirta maya cinta dalam bisu
Yang mengalir dari tetesan air mata rindu
Pertanda cinta ini masih ada
dan setia untukmu
Bila suatu masa jalinan kasihmu setia
Bernoktah cinta sepanjang hari
Hingga ikrar di depan penghulu
Setumpuk cabaran menjadi pelajaran
Tinta ini tak akan kuakhiri Nona
Walau mimpiku usai
Impian dan harapan terbengkalai
Daku tetap meraih obsesi dari sebuah mimpi
Jika malam tetap kau sinari
Meski mimpi-mimpi itu semu
Kan bias ditelan waktu
"Duhh ... taman khayalku merindu
Nan selalu melukis warna hati pada kekasih
Seperti indahnya pelangi jingga
Yang memerah di peraduan senja
Kusapa dikau cinta
Di kala senja hari
Adakah malam ini berpelita sinar purnama
Sedangkan malam ini
Musim masih saja berkabut
Aku serasa dibodohi si pungguk
Bermain rindu di dahan lapuk
Ketika bulan malu memadu rindu
Dikau hadirlah Nona!
Jangan pijar malam menjadi temaram
Jadilah sosok Juwita menari indah
Di dada langit
Kan menyinari pekatnya kabut buana
Daku tak lagi punya ruang
Tempat berlari mengejar bayanganmu
Tersenyum menatapmu yang jauh Yang bersandar di ranting bulan nan merindu
Meski kunang-kunang hatiku
Tak cukup mampu menerangi cinta
Di seantero mayapada
Dan terangi sukma pilu
Mengobati cerita terluka lara
Dalam kisah cinta yang tak nyata
Ketika tinta yang memudar ini masih tersisa
Yang akan melukis malam
Senyumlah!"
Pelita kecil itu janganlah sampai padam
Sedangkan dikau masih dalam genggaman
Embun rinduku
Yang selalu mencair di awal pagi
Menatap teriknya mentari siang tadi
Ketika senja tiba
Harapan pesimis memandang lembayung
Di tengah riak buih risau
Menitip kabar pada pelangi yang menepi
Ke telaga kasih nan membisu
Kabarku sama seperti yang berlalu
Aku masih mencintaimu, Nona
"Oh ... terik"
Laju sinarmu membakar langit
Hangatkan tubuhku sekejap saja!
Izinkan jejak ini menggapai obsesi hari
Senja telah tenggelam
Berharap, siluet cinta nan nyata merona
Pada keagungan Illahi Rabbi
Mendekap dalam doa-doa senja
Menitip sebait asma
"Berharap,"
cinta di hati ini janganlah redup
Aku masih seperti yang dulu yang kau rindu,
Memadah telepati dalam luah telik sandi
Meski menggores ayat-ayat pesimis
Jika kau tak lagi mengharap kehadiranku
Tak mengapa, aku juga rela
Pada tinta terakhir ini Nona
Tak jua dikau mengerti arti kekasih
Daku tak ingin jemari ini terhenti Menitip larik-larik puisi
Padamu Nona Maya si cemburu buta
Ketika goresan tintaku tak lagi dihargai
Dan tak lagi kau hantarkan warna ceria
Ke arena kanvas rupa rasaku
Yang mulai menipis di kertas putih
Karena rasaku semakin sepi
Semenjak ditinggal pergi
Pada bayangan mimpi kekasih
"Aahh ... mimpi.
Dikau paranoid tidur malamku ....
HR RoS
Jakarta, 03/04/2017
Minggu, 02 April 2017
Prosaliris
SAJAK ALAM MENGGAPAI RINDU
Karya Romy Sastra II
mendung nan berarak rinaikan air suci, gravitasi langit berkoloni di awan nan tinggi
betapa hebatnya sebuah kekuatan tak kelihatan
terpikirkan dalam lamunan
Engkau Tuhan adalah kerinduan
rinai itu jatuh ke bumi
menyisakan embun di rerumputan,
burung-burung nan bersolek
berkicau riang menyapa pasangan,
sayap nan cantik memancing kemesraan
nyanyiannya lembut adalah kedamaian
tertiup angin lena dimabuk asmara,
parung berkicau memanggil rindu
mari bersimponi bersamaku wahai kekasih,
dengan larik rindu sepoinya angin surgawi
aliran tirta di lembah menuju muara
menyapa segala biota di telaga kering
senang riang gembira
daun-daun muda di gurun menari erotis
gersang telah menghilang,
sang banyu menyemai segala rindu,
dari rasa cinta kearifan maha cinta
dahaga di tanah kering subur sudah
sajak alam menggapai rindu
pada rinai yang menghapus segala dahaga
biarkan jiwa ini berpaling
dari kepalsuan cinta dunia
menghilang ke dalam ranah maha jiwa
tak ingin menduakan maha kekasih
asyik tak terusik
karam ke samudera cinta tertinggi
yang bertaburan mutiara nan indah
ya, di jiwa ini ....
HR RoS
Jakarta, 03/04/2017
Karya Romy Sastra II
mendung nan berarak rinaikan air suci, gravitasi langit berkoloni di awan nan tinggi
betapa hebatnya sebuah kekuatan tak kelihatan
terpikirkan dalam lamunan
Engkau Tuhan adalah kerinduan
rinai itu jatuh ke bumi
menyisakan embun di rerumputan,
burung-burung nan bersolek
berkicau riang menyapa pasangan,
sayap nan cantik memancing kemesraan
nyanyiannya lembut adalah kedamaian
tertiup angin lena dimabuk asmara,
parung berkicau memanggil rindu
mari bersimponi bersamaku wahai kekasih,
dengan larik rindu sepoinya angin surgawi
aliran tirta di lembah menuju muara
menyapa segala biota di telaga kering
senang riang gembira
daun-daun muda di gurun menari erotis
gersang telah menghilang,
sang banyu menyemai segala rindu,
dari rasa cinta kearifan maha cinta
dahaga di tanah kering subur sudah
sajak alam menggapai rindu
pada rinai yang menghapus segala dahaga
biarkan jiwa ini berpaling
dari kepalsuan cinta dunia
menghilang ke dalam ranah maha jiwa
tak ingin menduakan maha kekasih
asyik tak terusik
karam ke samudera cinta tertinggi
yang bertaburan mutiara nan indah
ya, di jiwa ini ....
HR RoS
Jakarta, 03/04/2017
#monolog
#monolog
NEGERI DI UJUNG TANDUK
Oleh Romy Sastra II
Hitam dan putih menjadi abu-abu
hitam seperti berjubah suci
putih bernoda tersisih bungkam dikotori
kelabu sudah vigur seakan bertopeng dewa
joki terlena di punggung kuda
seperti raja berlari menuju tahta
penonton sibuk bernyanyi di layar kaca.
"Duuhh....
Si pengkhianat menyulut obor
bakar sajalah!
Hartawan senyum-senyum di istana megah
si miskin kian menjerit terjajah setiap hari
statemen beo ego diri
landasan kebenaran bibir sendiri
lidah memang tak bertulang
bercakap seenaknya saja
seperti dewa yang bertuah
disanjung di arena pengabdian
padahal homo homini lupus
ironis negeriku di ujung tanduk.
Akankah?
Caos jalan penyelesaian yang dinanti
sebagai jawaban hitam dan putih
berselimut abu-abu
bukan kami meminta negeri ini hancur lebur
mereka yang membuat skenario dunia ketiga sebagai panggung sandiwara
hingga negeri ini parah terpecah belah
kronis sudah oleh maling-maling berdasi
dari akar rumput hingga pucuk tertinggi.
Berguguran daun-daun tua muda
harga diri jatuh ke bawah
masih membela praduga tak bersalah
hingga tubuh negeri keropos
nadinya seakan terhenti bergerak
oleh benalu kekuasaan di setiap peradaban.
Negeri ini telah di ujung tanduk kawan,
menunggu bom waktu bratayuda
tak bisa dielakkan
lebih cepat lebih baik
prajurit sang patriot tampil memimpin
naik tahta membawa panji kejayaan
di sini dan di sana
akan memandu gejolak tak terduga
pasukan semut siap sudah turun gunung berkompetisi
menunggu komando perang saudara, dari intrik kapitalis yang culas.
Waspadalah...
bahaya di depan mata kita,
sewaktu-waktu kan tiba....
HR RoS
Jakarta, 02/04/2017
NEGERI DI UJUNG TANDUK
Oleh Romy Sastra II
Hitam dan putih menjadi abu-abu
hitam seperti berjubah suci
putih bernoda tersisih bungkam dikotori
kelabu sudah vigur seakan bertopeng dewa
joki terlena di punggung kuda
seperti raja berlari menuju tahta
penonton sibuk bernyanyi di layar kaca.
"Duuhh....
Si pengkhianat menyulut obor
bakar sajalah!
Hartawan senyum-senyum di istana megah
si miskin kian menjerit terjajah setiap hari
statemen beo ego diri
landasan kebenaran bibir sendiri
lidah memang tak bertulang
bercakap seenaknya saja
seperti dewa yang bertuah
disanjung di arena pengabdian
padahal homo homini lupus
ironis negeriku di ujung tanduk.
Akankah?
Caos jalan penyelesaian yang dinanti
sebagai jawaban hitam dan putih
berselimut abu-abu
bukan kami meminta negeri ini hancur lebur
mereka yang membuat skenario dunia ketiga sebagai panggung sandiwara
hingga negeri ini parah terpecah belah
kronis sudah oleh maling-maling berdasi
dari akar rumput hingga pucuk tertinggi.
Berguguran daun-daun tua muda
harga diri jatuh ke bawah
masih membela praduga tak bersalah
hingga tubuh negeri keropos
nadinya seakan terhenti bergerak
oleh benalu kekuasaan di setiap peradaban.
Negeri ini telah di ujung tanduk kawan,
menunggu bom waktu bratayuda
tak bisa dielakkan
lebih cepat lebih baik
prajurit sang patriot tampil memimpin
naik tahta membawa panji kejayaan
di sini dan di sana
akan memandu gejolak tak terduga
pasukan semut siap sudah turun gunung berkompetisi
menunggu komando perang saudara, dari intrik kapitalis yang culas.
Waspadalah...
bahaya di depan mata kita,
sewaktu-waktu kan tiba....
HR RoS
Jakarta, 02/04/2017
Langganan:
Postingan (Atom)