#Puisi_Haibun
EMBUN BERGANTI DEBU
Romy Sastra
Kicauan di kotaku bukanlah burung kenari, melainkan deru mesin bergemuruh di sepanjang jalan. Debu-debu berterbangan ke dedaunan tak lagi subur, makhota kembang di taman pucat pasi. Tak lagi menampung embun kala pagi menatap rama-rama berlari. Kotaku murung, hanya dihibur baliho di setiap pinggir jalan trotoar, sebagai pengganti aura kota berwajah teknologi, pada laju bisnis kota di tangan pemodal pengusaha dan penguasa, sama-sama mencari keuntungan pribadi.
Pagi merajuk
Embun dan debu malu
Gersang kotaku
HR RoS
Jakarta, 08/08/17
Kamis, 07 September 2017
Selasa, 05 September 2017
PROSAIS TARIAN ILALANG
#Puisi_Prosais
TARIAN ILALANG
Romy Sastra
hujan sesekali turun, lalu,
panas mendominasi membakari padang jadi gersang, tak gamang ditingkah hari yang menghadang dari pagi hingga ke petang
burung-burung pun enggan bernyanyi, memilih menjauh pergi ke pucuk nan rindang
tegarnya si ilalang menari, seperti tak merasa panas haus dan kehujanan
ia terus tumbuh, hidup yang tak pernah mengeluh
dada ibunya tergerus rusuh, rentak nadinya silih berganti memuji, sedangkan yang lain semakin angkuh, lupa pada janji pengabdian
sang bayu terus berhembus, tirta pun tak henti mengalir
jika hujan tak datang jua, ilalang itu terus menari bersama desau riuh, daun-daunnya yang kian gugur, tak menyalahkan takdir kematian, pucuk pun terus melambai, bunganya kian tumbuh subur jatuh berputik, tetap titipkan pesan pada tirani hidup yang tak kenal menyerah, meski api melahap seantero bumi, ilalang tegar terus menari, ia akan tetap terus menari, dan menari, meski plamboyan di taman selalu dijaga dan dipuja
tegarlah wahai pejantan tangguh cabari dunia, meski jejak kaki melangkah kan lelah
HR RoS
Jkt, 050917
TARIAN ILALANG
Romy Sastra
hujan sesekali turun, lalu,
panas mendominasi membakari padang jadi gersang, tak gamang ditingkah hari yang menghadang dari pagi hingga ke petang
burung-burung pun enggan bernyanyi, memilih menjauh pergi ke pucuk nan rindang
tegarnya si ilalang menari, seperti tak merasa panas haus dan kehujanan
ia terus tumbuh, hidup yang tak pernah mengeluh
dada ibunya tergerus rusuh, rentak nadinya silih berganti memuji, sedangkan yang lain semakin angkuh, lupa pada janji pengabdian
sang bayu terus berhembus, tirta pun tak henti mengalir
jika hujan tak datang jua, ilalang itu terus menari bersama desau riuh, daun-daunnya yang kian gugur, tak menyalahkan takdir kematian, pucuk pun terus melambai, bunganya kian tumbuh subur jatuh berputik, tetap titipkan pesan pada tirani hidup yang tak kenal menyerah, meski api melahap seantero bumi, ilalang tegar terus menari, ia akan tetap terus menari, dan menari, meski plamboyan di taman selalu dijaga dan dipuja
tegarlah wahai pejantan tangguh cabari dunia, meski jejak kaki melangkah kan lelah
HR RoS
Jkt, 050917
Quotes
#Quotes
Jika gamang bermain ayunan,
jangan berayun
Jika takut basah,
jangan menceburkan diri
Jika kepanasan,
jangan mendekati api
Jika ingin bahagia,
merdekakan rasa
Jika tak ingin ada beban,
jangan merasa diri ini penuh beban
Lalui saja suratan takdir hidup ini dengan senyuman
HR RoS
Jkt, 040917
Jika gamang bermain ayunan,
jangan berayun
Jika takut basah,
jangan menceburkan diri
Jika kepanasan,
jangan mendekati api
Jika ingin bahagia,
merdekakan rasa
Jika tak ingin ada beban,
jangan merasa diri ini penuh beban
Lalui saja suratan takdir hidup ini dengan senyuman
HR RoS
Jkt, 040917
Sabtu, 02 September 2017
AKU BERSAMA MALAM
AKU BERSAMA MALAM
Romy Sastra
desah bayu menambah keheningan
pada alunan seruling rindu
menyentuh sanubari,
membangunkan kisi-kisi malam
kisah yang telah sunyi, bangkitkan kembali
hening dalam kesendirian
angan kulukis bias dalam impian
jalan impian itu
yang tak pernah jadi kenyataan
dewi malam ....
temani aku malam ini
jangan dikau malu memeluk sepiku
kejora ....
taburkan kerlip indahmu
sinari temaram hati ini
biarkan aku bermandi cahaya
bersama galaxi yang mengitari
awan ....
guguskan embun malammu
basahi alam yang gersang
sirami jiwaku yang lara
walau setitik tertumpang di rerumputan
izinkan aku,
menyauk telaga mini di dedaunan
membasuh wajah yang lusuh, berdebu
berharap raut ini ceria
****
aku bersama malam
bercerita dalam bayangan diri
kaki ini sudah lelah melangkah
menggapai sebuah impian
yang kian jauh di ujung harapan
yang terkisah telah menutup memori
kau yang kuimpikan, kukasihi
kini telah berlalu pergi
adakah jalan ini kau singgahi kembali
jalan itu telah menjadi sebuah persimpangan
akankah bunga yang mekar tadi sore
layu sebelum berkembang
kuakui,
aku dalam keterpurukan
tak seperti yang diharapkan
modalku hanya sebuah keyakinan
untuk sinari kasih mimpi di ujung angan
akankah impian malamku
selalu bersanding bersama bayangan
angan, jangan menari di ujung malam
angin, bawalah sepoi keperaduan sunyi
kunang-kunang, menarilah sampai pagi
bulan, sinari malamku meski sekejap
yang dikau akan tertutup awan
fajar, jinggamu titipkanlah
semoga netra dunia menyinari jejak hari
tuk gapai esok ceria,
tak lagi berbuah kegagalan
mungkinkah pelita itu akan padam selamanya
jika rembulan tak merupa
fajar tak lagi jingga
netra dunia pun malu berganti derai rinai
entahlah ....
ah, fatalis jangan berselendang asa
HR RoS
Jakarta, 020917
Romy Sastra
desah bayu menambah keheningan
pada alunan seruling rindu
menyentuh sanubari,
membangunkan kisi-kisi malam
kisah yang telah sunyi, bangkitkan kembali
hening dalam kesendirian
angan kulukis bias dalam impian
jalan impian itu
yang tak pernah jadi kenyataan
dewi malam ....
temani aku malam ini
jangan dikau malu memeluk sepiku
kejora ....
taburkan kerlip indahmu
sinari temaram hati ini
biarkan aku bermandi cahaya
bersama galaxi yang mengitari
awan ....
guguskan embun malammu
basahi alam yang gersang
sirami jiwaku yang lara
walau setitik tertumpang di rerumputan
izinkan aku,
menyauk telaga mini di dedaunan
membasuh wajah yang lusuh, berdebu
berharap raut ini ceria
****
aku bersama malam
bercerita dalam bayangan diri
kaki ini sudah lelah melangkah
menggapai sebuah impian
yang kian jauh di ujung harapan
yang terkisah telah menutup memori
kau yang kuimpikan, kukasihi
kini telah berlalu pergi
adakah jalan ini kau singgahi kembali
jalan itu telah menjadi sebuah persimpangan
akankah bunga yang mekar tadi sore
layu sebelum berkembang
kuakui,
aku dalam keterpurukan
tak seperti yang diharapkan
modalku hanya sebuah keyakinan
untuk sinari kasih mimpi di ujung angan
akankah impian malamku
selalu bersanding bersama bayangan
angan, jangan menari di ujung malam
angin, bawalah sepoi keperaduan sunyi
kunang-kunang, menarilah sampai pagi
bulan, sinari malamku meski sekejap
yang dikau akan tertutup awan
fajar, jinggamu titipkanlah
semoga netra dunia menyinari jejak hari
tuk gapai esok ceria,
tak lagi berbuah kegagalan
mungkinkah pelita itu akan padam selamanya
jika rembulan tak merupa
fajar tak lagi jingga
netra dunia pun malu berganti derai rinai
entahlah ....
ah, fatalis jangan berselendang asa
HR RoS
Jakarta, 020917
Sabtu, 26 Agustus 2017
NAN TERLUPAKAN
NAN TERLUPAKAN
Romy Sastra
rajut terkoyak sulaman rapuh
roda waktu menjajah lara
terbuka benang memori di album lusuh
hari berlalu musim berganti
kidung jiwa leraikan resah
rindu bertamu di tepian hati
lembaran asmara telah kubencii
aku kalah pada gita cinta pelangi
yang tak memihak pada sebutir embun
pergi sajalah kisah jangan datang lagi
rawat kenangan dan lupakan kekecewaan
tatap laju ke depan meski rasa itu pahit
berdamai bersama jiwa tinggalkan dendam
lupakan kisah sedih yang dulu
kisah kasih yang tak sampai
memang noktah kita telah berbeda
tak lagi bisa bersatu
hilang jangan dikenang
biarlah rindu-rindu terbang bersama debu
nan pergi biarlah pergi
usah kembali lagi
HR RoS
Jkt,18/01/2017
Romy Sastra
rajut terkoyak sulaman rapuh
roda waktu menjajah lara
terbuka benang memori di album lusuh
hari berlalu musim berganti
kidung jiwa leraikan resah
rindu bertamu di tepian hati
lembaran asmara telah kubencii
aku kalah pada gita cinta pelangi
yang tak memihak pada sebutir embun
pergi sajalah kisah jangan datang lagi
rawat kenangan dan lupakan kekecewaan
tatap laju ke depan meski rasa itu pahit
berdamai bersama jiwa tinggalkan dendam
lupakan kisah sedih yang dulu
kisah kasih yang tak sampai
memang noktah kita telah berbeda
tak lagi bisa bersatu
hilang jangan dikenang
biarlah rindu-rindu terbang bersama debu
nan pergi biarlah pergi
usah kembali lagi
HR RoS
Jkt,18/01/2017
ESAI
_Esai_
Menyimak karya religi akak Pelangi Senja dari Selangor Malaysia.
Oleh Romy Sastra
Ini puisi membuka cakrawala pikirku, tuk meesaikan sebuah karya sahabat merangkap kakak. Tanpa ia sadari atau tidak, puisi ini mengandung filosofi hakikat yang sangat bermakna sekali pada isyarat batin yang tersirat di diri ini.
Puisi yang tak bertajuk huruf melainkan tajuknya aksara tanda titik-titik menandakan kosong tapi berisi menuai pikir dalam renungan pada titik-titik yang mesti dipahami bagi yang mencari destinasi titik itu.
Ini sebuah bentuk perjalanan imaji si aku penulis menyauk tirta di telaga batin memandu bilik-bilik diri.
Sangat sulit menterjemahkan sebuah syair yang tersirat meski ia tersurat, jika si pembaca tak memahami isi daripada kosong, melainkan insan-insan yang sudah menempuh perjalanan batin yang sudah ia temui isi di dalam kosong itu sendiri.
Mari kita menyimak puisi ini:
.....
bernafas dalam tubuh tak berjasad
bergerak bagai jisim yang bernyawa
bercahaya dalam terang meski gelap
berbara tanpa api yang terbakar
entah..
kukutip kau dari mana
hidup dalam denyut tanpa nadi
bacalah aku tanpa noktah
kerana aku ada di mana jua
Pelangi Senja, 21.08.17
Selangor
Pada larik pertama si Aku bermadah:
-bernafas dalam tubuh tak berjasad.
Ia mengajak kita merenungi sesuatu yang batin di dalam diri ini, sebab nafs itu batin. Terasa lajunya keluar masuk pada rongga dan hidung. Ia sebuah ibadah iman diri puji memuji hakiki dari detak jantung dan nadi, Ya Hu, Ya Hu, Ya Hu / Allah Allah Allah. Dan ini dinamakan solat jati pada tingkat ibadah tarikh batin, bukan pekerjaan jasad lahiriyah.
Dan menyimak di larik kedua:
-bergerak bagi jisim yang bernyawa.
Dari tarikh gerak nafs itu mengajak jisim, dalam makna tubuh atau jasad memuji bersama lahir dan batin, maka jisim bernyawa.
Di larik ketiga:
-bercahaya dalam terang meski gelap.
Ia menuntun jiwa berselancar mencari cahaya sejati, cahaya sejati itu adalah nur dalam diri. IA sangat nyata adanya dan IA awas tak tersaksi oleh rasa tak tersentuh oleh rasa itu di dalam gelap, yang ada pekat tapi IA lebih dekat dari pekatnya gelap itu.
Larik keempat:
-berbara tanpa api yang terbakar.
Ia menyiratkan empat nafsu di dalam diri. Mutmainah, lawamah, sufiah dan amarah.
Empat nafsu bagian dari api jisim membakari panas setengah panas sedang dan sejuk. Jangan hidupkan amarah biar gak terbakar. Sebab bara itu, hanya bisa dipadamkan dengan sabar istighfar.
Pada kalimat larik kelima:
-entah.
Ia si Aku terpana bukan dungu pada lajunya pikir di dalam diri. Melainkan betapa megahnya sang Maha di dalam jiwanya.
Di larik keenam:
-kukutip kau dari mana.
Si Aku semakin heran dengan penomena yang terjadi pada puji batin, ia datang tiba-tiba bersamaan, kemilau manik-manik jiwa membuncah ke seantero arasy jiwanya, tertegun si Aku indahnya megah.
Di larik ketujuh:
-hidup dalam denyut tanpa nadi.
Sungguh si Aku semakin terharu, terpukau pada mati di dalam hidup. Sebab, si Aku yang mengenali hakiki tak lagi berpijak pada nadi dan detak jantung memuji. Ia si Aku telah bermusyahadah kepada sejati, bersaksi. Sesungguhnya yang hidup itu adalah Dzat laisa kamiselihi.
Larik kedelapan:
bacalah aku tanpa noktah kerana.
Pada Dzat laisa kamiselihi syaiun mengajak semua ciptaanNya tuk memuji mengenali khaliknya, tanpa ada alasan makhluk merasa takut pada Maha Pencipta yang Maha lembut. Tercipta karena sebab melahirkan akibat / kausalis terjadi karena kehendak tak ada yang sia-sia ia diciptakan.
Pada larik terakhir:
-aku ada di mana jua.
Ilahi, Ar-Rabbani menyatakan pada segala ciptaanNya. IA khalik tidak jauh dari makhluk dan dari segala yang ada. Sedangkan leher dengan urat leher masih ada jaraknya, IA Allah manunggal menyatu kepada segala yang ada. IA berada di mana-mana, bukan bermaksud IA banyak. Akan tetapi IA Dzat Awas menyelimuti segala yang ada dan tiada sekalipun. IA Allah Akbar, Allah maha besar.
HR RoS
Jakarta, 24/08/2017
Colek Pak Dosen
Pakdhe Agung
Pakde Eko Windarto
Defri Andi Pitopang
Menyimak karya religi akak Pelangi Senja dari Selangor Malaysia.
Oleh Romy Sastra
Ini puisi membuka cakrawala pikirku, tuk meesaikan sebuah karya sahabat merangkap kakak. Tanpa ia sadari atau tidak, puisi ini mengandung filosofi hakikat yang sangat bermakna sekali pada isyarat batin yang tersirat di diri ini.
Puisi yang tak bertajuk huruf melainkan tajuknya aksara tanda titik-titik menandakan kosong tapi berisi menuai pikir dalam renungan pada titik-titik yang mesti dipahami bagi yang mencari destinasi titik itu.
Ini sebuah bentuk perjalanan imaji si aku penulis menyauk tirta di telaga batin memandu bilik-bilik diri.
Sangat sulit menterjemahkan sebuah syair yang tersirat meski ia tersurat, jika si pembaca tak memahami isi daripada kosong, melainkan insan-insan yang sudah menempuh perjalanan batin yang sudah ia temui isi di dalam kosong itu sendiri.
Mari kita menyimak puisi ini:
.....
bernafas dalam tubuh tak berjasad
bergerak bagai jisim yang bernyawa
bercahaya dalam terang meski gelap
berbara tanpa api yang terbakar
entah..
kukutip kau dari mana
hidup dalam denyut tanpa nadi
bacalah aku tanpa noktah
kerana aku ada di mana jua
Pelangi Senja, 21.08.17
Selangor
Pada larik pertama si Aku bermadah:
-bernafas dalam tubuh tak berjasad.
Ia mengajak kita merenungi sesuatu yang batin di dalam diri ini, sebab nafs itu batin. Terasa lajunya keluar masuk pada rongga dan hidung. Ia sebuah ibadah iman diri puji memuji hakiki dari detak jantung dan nadi, Ya Hu, Ya Hu, Ya Hu / Allah Allah Allah. Dan ini dinamakan solat jati pada tingkat ibadah tarikh batin, bukan pekerjaan jasad lahiriyah.
Dan menyimak di larik kedua:
-bergerak bagi jisim yang bernyawa.
Dari tarikh gerak nafs itu mengajak jisim, dalam makna tubuh atau jasad memuji bersama lahir dan batin, maka jisim bernyawa.
Di larik ketiga:
-bercahaya dalam terang meski gelap.
Ia menuntun jiwa berselancar mencari cahaya sejati, cahaya sejati itu adalah nur dalam diri. IA sangat nyata adanya dan IA awas tak tersaksi oleh rasa tak tersentuh oleh rasa itu di dalam gelap, yang ada pekat tapi IA lebih dekat dari pekatnya gelap itu.
Larik keempat:
-berbara tanpa api yang terbakar.
Ia menyiratkan empat nafsu di dalam diri. Mutmainah, lawamah, sufiah dan amarah.
Empat nafsu bagian dari api jisim membakari panas setengah panas sedang dan sejuk. Jangan hidupkan amarah biar gak terbakar. Sebab bara itu, hanya bisa dipadamkan dengan sabar istighfar.
Pada kalimat larik kelima:
-entah.
Ia si Aku terpana bukan dungu pada lajunya pikir di dalam diri. Melainkan betapa megahnya sang Maha di dalam jiwanya.
Di larik keenam:
-kukutip kau dari mana.
Si Aku semakin heran dengan penomena yang terjadi pada puji batin, ia datang tiba-tiba bersamaan, kemilau manik-manik jiwa membuncah ke seantero arasy jiwanya, tertegun si Aku indahnya megah.
Di larik ketujuh:
-hidup dalam denyut tanpa nadi.
Sungguh si Aku semakin terharu, terpukau pada mati di dalam hidup. Sebab, si Aku yang mengenali hakiki tak lagi berpijak pada nadi dan detak jantung memuji. Ia si Aku telah bermusyahadah kepada sejati, bersaksi. Sesungguhnya yang hidup itu adalah Dzat laisa kamiselihi.
Larik kedelapan:
bacalah aku tanpa noktah kerana.
Pada Dzat laisa kamiselihi syaiun mengajak semua ciptaanNya tuk memuji mengenali khaliknya, tanpa ada alasan makhluk merasa takut pada Maha Pencipta yang Maha lembut. Tercipta karena sebab melahirkan akibat / kausalis terjadi karena kehendak tak ada yang sia-sia ia diciptakan.
Pada larik terakhir:
-aku ada di mana jua.
Ilahi, Ar-Rabbani menyatakan pada segala ciptaanNya. IA khalik tidak jauh dari makhluk dan dari segala yang ada. Sedangkan leher dengan urat leher masih ada jaraknya, IA Allah manunggal menyatu kepada segala yang ada. IA berada di mana-mana, bukan bermaksud IA banyak. Akan tetapi IA Dzat Awas menyelimuti segala yang ada dan tiada sekalipun. IA Allah Akbar, Allah maha besar.
HR RoS
Jakarta, 24/08/2017
Colek Pak Dosen
Pakdhe Agung
Pakde Eko Windarto
Defri Andi Pitopang
Jumat, 11 Agustus 2017
Puisi Belajar Mati
BELAJAR MATI
Romy Sastra
Telah aku pungut tujuh kerikil melempari dosaku, tujuh kerikil penutup pintu neraka itu.
Membolak-balik kerikil kecil memandu pituduh, menghitung diri membuka hati.
Duduk bersila menatap layaran
merenungi megatruh di kancah rahasia pikir. Terkias makna yang bermegah di ruang batin, mencari-Mu, Ilahi.
Aku belajar mati merenangi segara biru, pantai-pantai melambai menghiasi nafsu berjuntai. Kutolak bara api membakari jiwa, padamkan dengan doa tauhid paripurna.
Di ujung pencarian diri, tak kutemukan bayangan wujud sama sekali, yang ada kosong teraba, terisi awas tak tersentuh. Jiwaku terpaku menatap maha jiwa, digulung maha ombak mendesir seperti lonceng berbunyi, aku mati di segara pengabdian cinta hakiki.
Pengembaraan itu akhirnya terhenti, di garis batas keyakinan tak diragukan. Pada duduk sila semalam di rumah Qulhu. Aku merindui-Mu selalu....
HR RoS
Jakarta, 11,08,17
Romy Sastra
Telah aku pungut tujuh kerikil melempari dosaku, tujuh kerikil penutup pintu neraka itu.
Membolak-balik kerikil kecil memandu pituduh, menghitung diri membuka hati.
Duduk bersila menatap layaran
merenungi megatruh di kancah rahasia pikir. Terkias makna yang bermegah di ruang batin, mencari-Mu, Ilahi.
Aku belajar mati merenangi segara biru, pantai-pantai melambai menghiasi nafsu berjuntai. Kutolak bara api membakari jiwa, padamkan dengan doa tauhid paripurna.
Di ujung pencarian diri, tak kutemukan bayangan wujud sama sekali, yang ada kosong teraba, terisi awas tak tersentuh. Jiwaku terpaku menatap maha jiwa, digulung maha ombak mendesir seperti lonceng berbunyi, aku mati di segara pengabdian cinta hakiki.
Pengembaraan itu akhirnya terhenti, di garis batas keyakinan tak diragukan. Pada duduk sila semalam di rumah Qulhu. Aku merindui-Mu selalu....
HR RoS
Jakarta, 11,08,17
Senin, 07 Agustus 2017
Prosais SEPOTONG SENJA
#Kolab_Prosais
SEPOTONG SENJA
"Aku ingin menjadi sepotong senja, tuan. Dipuja tiap sore oleh para pujangga di bibir malam.
"Aku cemburu pada jingga, yang warnanya membawa kedamaian pada alam. "Kenapa tuan tak mau mengerti arti kesetiaan itu?" Sedangkan merpati masih setia pada sangkar dengan pasangan.
"Aku bukan abuabu, yang tuan anggap debu, yang tiada erti sebuah rindu, bahkan tiada dipandang mata sekalipun.
"Ahh... kutuliskan sekeping nota untukmu senja. Pinjamkan aku namamu, sebelum malam merampas kelam. Sekalian keindahanmu yang ada kutadah dalam doa.
"Semoga tuan mengerti erti kesetiaan senja pada lembayung di segara cinta.
"Ya... Nona, bersabarlah tuk sekejap!" Aku kan kembali merajut noktah yang tercabik oleh sembilu goda.
"Aku bukan si tuan yang dianggap hina, lupa dengan kisah yang pernah kita bina. Nota itu masih tersimpan rapi di hati ini, Non!"
"Akulah si merpati yang tak ingin ingkar janji pada Nona yang terkasih....
Meski terbangku melepas ego, dan kularung ego itu ke ruang senja. Menyauk embun di daun keladi, kuusap pada setangkup hati yang tersisih.
Pelangi Senja bersama Romy Sastra
Selangor dan Jakarta 07,08,17
SEPOTONG SENJA
"Aku ingin menjadi sepotong senja, tuan. Dipuja tiap sore oleh para pujangga di bibir malam.
"Aku cemburu pada jingga, yang warnanya membawa kedamaian pada alam. "Kenapa tuan tak mau mengerti arti kesetiaan itu?" Sedangkan merpati masih setia pada sangkar dengan pasangan.
"Aku bukan abuabu, yang tuan anggap debu, yang tiada erti sebuah rindu, bahkan tiada dipandang mata sekalipun.
"Ahh... kutuliskan sekeping nota untukmu senja. Pinjamkan aku namamu, sebelum malam merampas kelam. Sekalian keindahanmu yang ada kutadah dalam doa.
"Semoga tuan mengerti erti kesetiaan senja pada lembayung di segara cinta.
"Ya... Nona, bersabarlah tuk sekejap!" Aku kan kembali merajut noktah yang tercabik oleh sembilu goda.
"Aku bukan si tuan yang dianggap hina, lupa dengan kisah yang pernah kita bina. Nota itu masih tersimpan rapi di hati ini, Non!"
"Akulah si merpati yang tak ingin ingkar janji pada Nona yang terkasih....
Meski terbangku melepas ego, dan kularung ego itu ke ruang senja. Menyauk embun di daun keladi, kuusap pada setangkup hati yang tersisih.
Pelangi Senja bersama Romy Sastra
Selangor dan Jakarta 07,08,17
Jumat, 04 Agustus 2017
Kwatrin Renungan Diri
#Kwatrin Renungan Diri
Romy Sastra
Sepi merenung bukan patah hati. Melainkan diam tafakur mencari diri. Duduk bersunyi-sunyi di malam hari. Komat-kamit menghitung tasbih menempuh pagi.
Sepi merenungi kejadian azali terjadi. Tuntunan tauhid di atas tiang-tiang berdiri. Pada alif berguru tongkat sejati. Jangan bermain ego jika ingin tahu hakiki.
Duhai, pengembara sunyi. Tatap malam jangan bermain kelam. Sedangkan pintu langit selalu terbuka di hati. Bulan dan bintang tak pernah tenggelam bersemayam.
Seribu guru kupelajari ajaran kebenaran. Guru-guru itu bertaburan di setiap langkah dan berlari. Taat pada tuntunan takkan tersesat jalan. Menangislah diri jika tak ditemukan yang dirindui.
Aku pernah mati meninggalkan dunia ini sesaat. Dunia ini, jika tak diawasi lelaku akan tersesat. Sebelum terlambat ke liang lahat segeralah bertobat. Kiamat diri sebentar lagi kian mendekat.
Aku mati belajar mengenali sakaratul maut. Sedangkan el-maut mencibir diri ini nyawa akan direnggut. Kenapa diri lupa tentang kematian tak merasa takut. Sedangkan tangan el-maut tiba-tiba datang mencabut.
Pada sepi aku bersunyi-sunyi menyadari kekhilafan diri. Dalam kesunyian menemui Ilahi. Wajah Ilahi bukan wujud melainkan Idzati. Dengan jalan menempuh kematian itu kita bertajali.
HR RoS
Jkt, Jumat malam 03/08/17
Romy Sastra
Sepi merenung bukan patah hati. Melainkan diam tafakur mencari diri. Duduk bersunyi-sunyi di malam hari. Komat-kamit menghitung tasbih menempuh pagi.
Sepi merenungi kejadian azali terjadi. Tuntunan tauhid di atas tiang-tiang berdiri. Pada alif berguru tongkat sejati. Jangan bermain ego jika ingin tahu hakiki.
Duhai, pengembara sunyi. Tatap malam jangan bermain kelam. Sedangkan pintu langit selalu terbuka di hati. Bulan dan bintang tak pernah tenggelam bersemayam.
Seribu guru kupelajari ajaran kebenaran. Guru-guru itu bertaburan di setiap langkah dan berlari. Taat pada tuntunan takkan tersesat jalan. Menangislah diri jika tak ditemukan yang dirindui.
Aku pernah mati meninggalkan dunia ini sesaat. Dunia ini, jika tak diawasi lelaku akan tersesat. Sebelum terlambat ke liang lahat segeralah bertobat. Kiamat diri sebentar lagi kian mendekat.
Aku mati belajar mengenali sakaratul maut. Sedangkan el-maut mencibir diri ini nyawa akan direnggut. Kenapa diri lupa tentang kematian tak merasa takut. Sedangkan tangan el-maut tiba-tiba datang mencabut.
Pada sepi aku bersunyi-sunyi menyadari kekhilafan diri. Dalam kesunyian menemui Ilahi. Wajah Ilahi bukan wujud melainkan Idzati. Dengan jalan menempuh kematian itu kita bertajali.
HR RoS
Jkt, Jumat malam 03/08/17
MEMORI DAERAH SUNYI
#puisi_kolaborasi
MEMORI DAERAH SUNYI
Pelangi Senja bersama Romy Sastra
pada sekeping hati
tanah pulau yang dibiar sepi
setelah engkau pergi
aku tewas kalah dan mati
tidakkah kau melihat aku, bekas kekasihmu
madu yang dulu kau saring, kini telah kering
membilang semu di bibir hari
noktah kita akhirnya tercabik duri
setelah engkau bertemu debunga wangi
selendang usang tak berharga lagi
perca-perca rindu jadi memori
memori yang tak berarti
jalan sepi pernah kita lewati
kau memahat namaku di daerah sunyi
hanya kau dan aku berjanji sehidup semati
ternyata lenaku mengecapi mimpi-mimpi
setelah terjaga engkau tiada lagi
kisah kasih itu ternyata ilusi
4.8.2017
Selangor dan Jakarta
MEMORI DAERAH SUNYI
Pelangi Senja bersama Romy Sastra
pada sekeping hati
tanah pulau yang dibiar sepi
setelah engkau pergi
aku tewas kalah dan mati
tidakkah kau melihat aku, bekas kekasihmu
madu yang dulu kau saring, kini telah kering
membilang semu di bibir hari
noktah kita akhirnya tercabik duri
setelah engkau bertemu debunga wangi
selendang usang tak berharga lagi
perca-perca rindu jadi memori
memori yang tak berarti
jalan sepi pernah kita lewati
kau memahat namaku di daerah sunyi
hanya kau dan aku berjanji sehidup semati
ternyata lenaku mengecapi mimpi-mimpi
setelah terjaga engkau tiada lagi
kisah kasih itu ternyata ilusi
4.8.2017
Selangor dan Jakarta
Rabu, 02 Agustus 2017
PELANGI TAK SELALU INDAH
PELANGI TAK SELALU INDAH
Karya Romy Sastra II
semburat hari membulir pagi
daun-daun menari lenggok bak bidadari
capung-capung terbang bergoyang
menanti bianglala hadir merupa
fajar redup embun bias tertutup debu
netra dunia sinari lembah sunyi
di sana dan di sini iklim tak sama
gejolak hari melakon cerita usang
rona silih berganti dalam siklus masa
pelangi adakala tak selalu indah
di antara cerita lama dan kekinian
jelaslah berbeda
senja telah datang menempuh malam
di sini langit berkabut
menutup jendela biru
ruang mega keabu-abuan
seduhan kopi tak manis kuhidangkan
dunia disapa tertawan kebisuan
seperti opera tak berpenonton
pentas tertutup layar
seakan tak memahami alur cerita seni
skenario story salah tingkah sudah
bait-bait tinta bersimpuh tertoreh lusuh
pelangi tak sempurna mewarnai lingkaran
dentuman menghapus jejak kabut pagi
terik hadir seperti purnama di malam hari
lidah api mencambuk senja
geger guruh mengundang rusuh
Jibril titipkan isyarat pada kehidupan
tunduklah wahai yang tercipta pada
ke haribaanNya
kabut pekat akhirnya
rinaikan sebak di dada langit
nuansa pagi dan petang tak berseri
pada puisi ini bercerita tentang pelangi
yang tak selalu indah
pada cakrawala dunia
HR RoS
Jakarta, 03.01.2017
Karya Romy Sastra II
semburat hari membulir pagi
daun-daun menari lenggok bak bidadari
capung-capung terbang bergoyang
menanti bianglala hadir merupa
fajar redup embun bias tertutup debu
netra dunia sinari lembah sunyi
di sana dan di sini iklim tak sama
gejolak hari melakon cerita usang
rona silih berganti dalam siklus masa
pelangi adakala tak selalu indah
di antara cerita lama dan kekinian
jelaslah berbeda
senja telah datang menempuh malam
di sini langit berkabut
menutup jendela biru
ruang mega keabu-abuan
seduhan kopi tak manis kuhidangkan
dunia disapa tertawan kebisuan
seperti opera tak berpenonton
pentas tertutup layar
seakan tak memahami alur cerita seni
skenario story salah tingkah sudah
bait-bait tinta bersimpuh tertoreh lusuh
pelangi tak sempurna mewarnai lingkaran
dentuman menghapus jejak kabut pagi
terik hadir seperti purnama di malam hari
lidah api mencambuk senja
geger guruh mengundang rusuh
Jibril titipkan isyarat pada kehidupan
tunduklah wahai yang tercipta pada
ke haribaanNya
kabut pekat akhirnya
rinaikan sebak di dada langit
nuansa pagi dan petang tak berseri
pada puisi ini bercerita tentang pelangi
yang tak selalu indah
pada cakrawala dunia
HR RoS
Jakarta, 03.01.2017
Puisi Tafakurnya Sang Musyafir
TAFAKURNYA SANG MUSYAFIR
Romy Sastra
Telah aku kelilingi dunia, mencariMu
Di berbagai persinggahan bertanya
Di mana pintu istana maha kekasih berada
Semua diam tak mengerti
Bertanya kepada angin
Sepoinya melenakan tubuh, mata terkantuk
Debu-debu diterbangkan, berpeluh
Tutupi saja wajah ini
Di liang rongga ia memuji
Bertanya kepada langit
Jangan tatap dadaku
Bulan, bintang, matahari, mereka semua bersujud
Merunduklah!
Pintu langit ada dalam tafakur
Bertanya kepada hamparan terbentang
Pasrah tak menuntut jera, jerih dan lelah
Ia berbisik pada pasir-pasir terpijak
Di tubuhmu pagar istana kekasih berada
Bertanya kepada samudera
Riak-riaknya melambai seperti bayangan
Jangan menatap nun di kejauhan
Telanjangilah jiwamu, selami kedalaman itu
Terdiam sejenak merenungi diri
Yang dicari sesungguhnya tak jauh
Cukup bertanya pada rasa, mursyid
Istana kekasih itu
Pintunya ada pada kematian di dalam hidup
HR RoS
Jakarta, 20,03,2017
Romy Sastra
Telah aku kelilingi dunia, mencariMu
Di berbagai persinggahan bertanya
Di mana pintu istana maha kekasih berada
Semua diam tak mengerti
Bertanya kepada angin
Sepoinya melenakan tubuh, mata terkantuk
Debu-debu diterbangkan, berpeluh
Tutupi saja wajah ini
Di liang rongga ia memuji
Bertanya kepada langit
Jangan tatap dadaku
Bulan, bintang, matahari, mereka semua bersujud
Merunduklah!
Pintu langit ada dalam tafakur
Bertanya kepada hamparan terbentang
Pasrah tak menuntut jera, jerih dan lelah
Ia berbisik pada pasir-pasir terpijak
Di tubuhmu pagar istana kekasih berada
Bertanya kepada samudera
Riak-riaknya melambai seperti bayangan
Jangan menatap nun di kejauhan
Telanjangilah jiwamu, selami kedalaman itu
Terdiam sejenak merenungi diri
Yang dicari sesungguhnya tak jauh
Cukup bertanya pada rasa, mursyid
Istana kekasih itu
Pintunya ada pada kematian di dalam hidup
HR RoS
Jakarta, 20,03,2017
Jumat, 28 Juli 2017
Puisi Menjawab Puisi Syaidina Ali
OBATMU TERDAPAT DI DALAM DIRIMU
Romy Sastra II
Ketika sadar terpikirkan tujuan
Jangan lari dari kenyataan
Merasa perih tak ada penawar
Sedangkan Tuhan bersamamu, menyediakan segala kebutuhan
Jangan gelap bermain api,
kan terbakar nanti
Sedangkan cahaya hati selalu menerangi
Apakah kamu tak menyadari penawar lara
Ia berasal dari dirimu
Kenapa kamu tak mengetahuinya?
Kau mengira hatimu satu benda yang kecil
Namun
Di dalam hatimu
Termuat alam yang begitu besar
Segala lara ada obatnya
Surga dan neraka ada di dalamnya
Bahkan cinta dan benci bergandengan
Tak berjarak seperti misykat tak terlihat
Nyata mengikat erat sebuah perjalanan
Unsur tubuh kearifan ruh
Maka, kenalilah sang Maha Ruh
Hingga sakit terasa nikmat
Berjalanlah dengan pedoman
Biar tak tersesat jalan menempuh kehidupan dan kematian
HR RoS
Jakarta, 130617
#menjawab_syair_Syaidina_Ali
Romy Sastra II
Ketika sadar terpikirkan tujuan
Jangan lari dari kenyataan
Merasa perih tak ada penawar
Sedangkan Tuhan bersamamu, menyediakan segala kebutuhan
Jangan gelap bermain api,
kan terbakar nanti
Sedangkan cahaya hati selalu menerangi
Apakah kamu tak menyadari penawar lara
Ia berasal dari dirimu
Kenapa kamu tak mengetahuinya?
Kau mengira hatimu satu benda yang kecil
Namun
Di dalam hatimu
Termuat alam yang begitu besar
Segala lara ada obatnya
Surga dan neraka ada di dalamnya
Bahkan cinta dan benci bergandengan
Tak berjarak seperti misykat tak terlihat
Nyata mengikat erat sebuah perjalanan
Unsur tubuh kearifan ruh
Maka, kenalilah sang Maha Ruh
Hingga sakit terasa nikmat
Berjalanlah dengan pedoman
Biar tak tersesat jalan menempuh kehidupan dan kematian
HR RoS
Jakarta, 130617
#menjawab_syair_Syaidina_Ali
Prosais Berguru Pada Semut
#puisi_prosais
Berguru Pada Semut
Romy Sastra II
Bisu bukan tak bersuara, aksara bahasanya mengeja kata.
Tarian jemarinya gemulai, yang melahirkan makna
Bisu membaca perihal cinta di dalam lirik, berkomat-kamit. Ia menyapa?
Adakah dikau tersenyum, ataukah terpana? Mestinya kita memahami, itu juga bahasa Tuhan.
Bergurulah pada semut-semut kecil yang beriring jalan! Saling mengenali.
Ia mencium aroma setia tak tersisih di garis kesetiaan, melainkan menyisihkan dendam.
"Duhai, diri....
Jangan kotori kewibawaan insan, malulah pada budi yang bersemayam di hati ini.
Jiwa kita menyemai plamboyan, kedamaian
Biarkan bunga-bunga cinta bermekaran di taman
Bibit-bibit kesahajaan pakaian keimanan. Janganlah menyimpan dendam, bunga layu, pelita kan padam.
Usah bertengkar diri! Kekang ego jangan bermain api, sedangkan angin masih berhembus, kipaslah dada,
Usah bertengkar diri! Sauk dan teguklah tirta di telaga sunyi, bermandilah dengan kacahaya rasa.
Dunia ini indah, nikmatilah! Hidup ini sesaat, kapan beribadah?
"Ya... malulah pada semut-semut kecil yang berbaris di tanah. Berikan laluannya, jangan injak, ia mati.
Tapi, ia tak dendam.
Ketika disakiti, jangan salahkan doa-doa yang dizalimi dimakbulkan Tuhan....
HR RoS
Jkt, 28/07/17
Berguru Pada Semut
Romy Sastra II
Bisu bukan tak bersuara, aksara bahasanya mengeja kata.
Tarian jemarinya gemulai, yang melahirkan makna
Bisu membaca perihal cinta di dalam lirik, berkomat-kamit. Ia menyapa?
Adakah dikau tersenyum, ataukah terpana? Mestinya kita memahami, itu juga bahasa Tuhan.
Bergurulah pada semut-semut kecil yang beriring jalan! Saling mengenali.
Ia mencium aroma setia tak tersisih di garis kesetiaan, melainkan menyisihkan dendam.
"Duhai, diri....
Jangan kotori kewibawaan insan, malulah pada budi yang bersemayam di hati ini.
Jiwa kita menyemai plamboyan, kedamaian
Biarkan bunga-bunga cinta bermekaran di taman
Bibit-bibit kesahajaan pakaian keimanan. Janganlah menyimpan dendam, bunga layu, pelita kan padam.
Usah bertengkar diri! Kekang ego jangan bermain api, sedangkan angin masih berhembus, kipaslah dada,
Usah bertengkar diri! Sauk dan teguklah tirta di telaga sunyi, bermandilah dengan kacahaya rasa.
Dunia ini indah, nikmatilah! Hidup ini sesaat, kapan beribadah?
"Ya... malulah pada semut-semut kecil yang berbaris di tanah. Berikan laluannya, jangan injak, ia mati.
Tapi, ia tak dendam.
Ketika disakiti, jangan salahkan doa-doa yang dizalimi dimakbulkan Tuhan....
HR RoS
Jkt, 28/07/17
Prosais Air Laut Tak Asin Lagi
#Puisi_prosais
AIR LAUT TAK ASIN LAGI
Romy Sastra
Layaran ini tak kuhentikan, meski gelombang datang menghadang, kulihat pantai itu ramai menanti pesta laut, dermaga hilir mudik membawa kristal-kristal asin ke pergudangan. Entah untuk apa kristal asin itu tuan timbun?" Negeri ini negeri bahari, kenapa mereka dahaga di atas air laut sendiri. Aku anak negeri ini heran, tertanya-tanya pada warta mengudara, pada teriak nyonya-nyonya di pasar-pasar, pada industri-industri kecil yang merasa rugi pada produksinya, perusahannya di ambang guling tikar, "Ya, karena harga garam melangit. Ironisnya, langka. Aneh, negeri bahari ini.
"Tuan?! Apakah air laut memang tak asin lagikah? Ataukah tuan sudah pencundang kenyang bermain petak umpet oleh kolonial nakal? Aku manggut-manggut sendiri, ini lucu. Lucu selucu-lucunya. Negeri bahari air lautnya tak asin lagi, kuah-kuah di panci serasa hambar, nyonya terkekeh-kekeh di dapur, garam aja kok bisa langka. Bedebahnya kerja menteri-menteri itu. Layaranku, akhirnya berlabuh pada maruah bangsa yang dijajah oleh pemodal bermata satu.
HR RoS
Jkt, 28/07/17
AIR LAUT TAK ASIN LAGI
Romy Sastra
Layaran ini tak kuhentikan, meski gelombang datang menghadang, kulihat pantai itu ramai menanti pesta laut, dermaga hilir mudik membawa kristal-kristal asin ke pergudangan. Entah untuk apa kristal asin itu tuan timbun?" Negeri ini negeri bahari, kenapa mereka dahaga di atas air laut sendiri. Aku anak negeri ini heran, tertanya-tanya pada warta mengudara, pada teriak nyonya-nyonya di pasar-pasar, pada industri-industri kecil yang merasa rugi pada produksinya, perusahannya di ambang guling tikar, "Ya, karena harga garam melangit. Ironisnya, langka. Aneh, negeri bahari ini.
"Tuan?! Apakah air laut memang tak asin lagikah? Ataukah tuan sudah pencundang kenyang bermain petak umpet oleh kolonial nakal? Aku manggut-manggut sendiri, ini lucu. Lucu selucu-lucunya. Negeri bahari air lautnya tak asin lagi, kuah-kuah di panci serasa hambar, nyonya terkekeh-kekeh di dapur, garam aja kok bisa langka. Bedebahnya kerja menteri-menteri itu. Layaranku, akhirnya berlabuh pada maruah bangsa yang dijajah oleh pemodal bermata satu.
HR RoS
Jkt, 28/07/17
Rabu, 26 Juli 2017
Sinopsis Bumi Mande Bapuisi
Sinopsis BMB Bumi Mande Bapuisi
Romy Sastra
Selayang pandang deburan pesisir menggugah tembok-tembok batu karang di Batu Kalang, pantai Kambang berhias pasir putih sejauh mata memandang dan hutan bakau di taman laut Bumi Mande Bapuisi. Kita bernyanyi bersama indahnya pesona pulau pantai Mande menghalau risau pada nyanyian yang sumbang menempuh petang, tentang kearifan lokal yang tak ingin tergerus zaman.
Di pantai Sago di pinggir jalan sajakku terhenti, kenapa camar-camar laut itu mulai enggan terbang tinggi, sedangkan siulan merpati tak ingin bisu, camar tak lagi mampu berlomba bernyanyi, ia memilih sunyi. Apakah sayap-sayapnya telah patah? "Ya... jika iya, masih ada sunset jingga nan jauh merupa menyulam cerita di kaki langit memanjakan dermaga Teluk Bayur dengan untaian lembayung pada riak-riak yang tenang. Satu sayap patah menikam jatuh, menimpa daun-daun mati, cukup saja tariannya melepas sayap putih terjatuh di daun mati, tunas-tunas enggan berganti, kenapa? "Oh... titian akar di negeri Pulut-Pulut Bayu Bayang Utara, destinasi wisata itu di ujung rimba, berhias negeri baru di atas awan, menitip cerita dua hati para remaja berkisah nostalgia, yang selalu setia menanti kehadiran kekasih tentang kepergian semusim rindu pada raya tiba.
Koto Baru Bayang, dibingkai janji-janji manis di rinai embun air terjun, destinasi berkasih sayang, di Bayang Sani itu, cerita bermula, kisah tak jadi di sini, rindu semusim usai pada rintik air bening di ujung mata mengundang pelangi bertandang, seperti bidadari membawa selendang bersolek di atas batu tak nampak oleh mata telanjang.
"Ya, sinopsis deburan petang, riang ombak bernyanyi di pantai yang tak lelah menari gemulai di sagara nan dalam. Aku terdiam di batas ranah Pesisir Selatan, berjuntai memandang, sejuknya tatapan ke hutan belantara di sana. Pada suara alam, lembutnya kicauan cericit si burung mungil bersahutan.
Pesisir Selatan di nyanyian diksi Bumi Mande Bapuisi kala senja menyapa pantai di Carocok Painan nan permai.
HR RoS
Jkt, 26/07/17
Romy Sastra
Selayang pandang deburan pesisir menggugah tembok-tembok batu karang di Batu Kalang, pantai Kambang berhias pasir putih sejauh mata memandang dan hutan bakau di taman laut Bumi Mande Bapuisi. Kita bernyanyi bersama indahnya pesona pulau pantai Mande menghalau risau pada nyanyian yang sumbang menempuh petang, tentang kearifan lokal yang tak ingin tergerus zaman.
Di pantai Sago di pinggir jalan sajakku terhenti, kenapa camar-camar laut itu mulai enggan terbang tinggi, sedangkan siulan merpati tak ingin bisu, camar tak lagi mampu berlomba bernyanyi, ia memilih sunyi. Apakah sayap-sayapnya telah patah? "Ya... jika iya, masih ada sunset jingga nan jauh merupa menyulam cerita di kaki langit memanjakan dermaga Teluk Bayur dengan untaian lembayung pada riak-riak yang tenang. Satu sayap patah menikam jatuh, menimpa daun-daun mati, cukup saja tariannya melepas sayap putih terjatuh di daun mati, tunas-tunas enggan berganti, kenapa? "Oh... titian akar di negeri Pulut-Pulut Bayu Bayang Utara, destinasi wisata itu di ujung rimba, berhias negeri baru di atas awan, menitip cerita dua hati para remaja berkisah nostalgia, yang selalu setia menanti kehadiran kekasih tentang kepergian semusim rindu pada raya tiba.
Koto Baru Bayang, dibingkai janji-janji manis di rinai embun air terjun, destinasi berkasih sayang, di Bayang Sani itu, cerita bermula, kisah tak jadi di sini, rindu semusim usai pada rintik air bening di ujung mata mengundang pelangi bertandang, seperti bidadari membawa selendang bersolek di atas batu tak nampak oleh mata telanjang.
"Ya, sinopsis deburan petang, riang ombak bernyanyi di pantai yang tak lelah menari gemulai di sagara nan dalam. Aku terdiam di batas ranah Pesisir Selatan, berjuntai memandang, sejuknya tatapan ke hutan belantara di sana. Pada suara alam, lembutnya kicauan cericit si burung mungil bersahutan.
Pesisir Selatan di nyanyian diksi Bumi Mande Bapuisi kala senja menyapa pantai di Carocok Painan nan permai.
HR RoS
Jkt, 26/07/17
Selasa, 25 Juli 2017
Puisi prosais_ OH, BAYANGANKU
#puisi_prosais
OH, BAYANGANKU
Romy Sastra
Di pertengahan terik, titik pusar hari membakari bayanganku, aku tegar. Sepoinya sang bayu menderu dedaunan, tak mampu redamkan panas di ubun, meski tertutup seribu topi di kepala, justru lelehan lahar mengaliri, harungi kulit-kulit di badan serasa bermandi tak berpancuran.
Jangan salahpaham pada Tuhan!" RahmatNya tidak terbatas pada hujan dan embun malam yang diidamkan oleh kesuburan. Tanpa kau terik, buah-buah tak meranum bergizi, malah ia akan membusuk sebelum matangnya tiba. "Tuhan... ajarkan hati ini bersyukur, jangan lalaikan hambaMu akan anugerah matahari yang dikutuk pada insan si pengeluh, di bawah terik rahmatMu yang tak dirindui ini.
Bayangan diri ini telah mulai perlahan berangsur menjauh pergi dari lingga diri. "Sadarkan hati!" Bahwa senja akan tiba, pertanda bekal azali pada janji hidup sebentar lagi berakhir di tangan misteri, terampaskah nyawa ini?" Ataukah dipeluk kekasih, entahlah....
HR RoS
Jkt, 26/07/17
OH, BAYANGANKU
Romy Sastra
Di pertengahan terik, titik pusar hari membakari bayanganku, aku tegar. Sepoinya sang bayu menderu dedaunan, tak mampu redamkan panas di ubun, meski tertutup seribu topi di kepala, justru lelehan lahar mengaliri, harungi kulit-kulit di badan serasa bermandi tak berpancuran.
Jangan salahpaham pada Tuhan!" RahmatNya tidak terbatas pada hujan dan embun malam yang diidamkan oleh kesuburan. Tanpa kau terik, buah-buah tak meranum bergizi, malah ia akan membusuk sebelum matangnya tiba. "Tuhan... ajarkan hati ini bersyukur, jangan lalaikan hambaMu akan anugerah matahari yang dikutuk pada insan si pengeluh, di bawah terik rahmatMu yang tak dirindui ini.
Bayangan diri ini telah mulai perlahan berangsur menjauh pergi dari lingga diri. "Sadarkan hati!" Bahwa senja akan tiba, pertanda bekal azali pada janji hidup sebentar lagi berakhir di tangan misteri, terampaskah nyawa ini?" Ataukah dipeluk kekasih, entahlah....
HR RoS
Jkt, 26/07/17
Puisi prosais_Pijar Hati Yang Kucari
#Puisi_Prosais
Pijar Hati Yang Kucari
Romy Sastra
Siang tadi pijar hari menyapa, sebuah keniscayaan spirit alam menyinari mayapada. Ia menyemangati kulit ariku, bukan membakari. Embun pagi lenyap ditikam aurora langit.
Lebam di tangan tak peduli, kubiarkan saja ia menggenggam nasib badan.
Jalani saja liku-liku perjalanan hidup ini menempuh destinasi cinta di penghujung usia. "Ah... resah, kenapa bergayut hiba di sudut mata yang mulai basah?" Seperti embun senja menyapa dedaunan, dahaga dibakari pijar hari siang tadi.
"Ya...senja telah tiba, pijar hari kembali ke peraduan sunyi. Kulipat langit kala malam, kuhamparkan sajadah, kuhitung-hitung tiket pertunjukkan menatap layar diri. Layar terbentang pijar hakiki bertandang, inikah destinasi yang sesungguhnya kucari. "Ya, bersemayamnya maha cinta di hati ini. Ia yang tak pernah alpa menatap dengan kasih sayang tak berhujung tak bertepi selagi batin memandang.
Makrifat cintaku nyata adanya,
kehadirannya memanglah indah.
Aku terpesona....
HR RoS
Jkt, 24/07/17
Pijar Hati Yang Kucari
Romy Sastra
Siang tadi pijar hari menyapa, sebuah keniscayaan spirit alam menyinari mayapada. Ia menyemangati kulit ariku, bukan membakari. Embun pagi lenyap ditikam aurora langit.
Lebam di tangan tak peduli, kubiarkan saja ia menggenggam nasib badan.
Jalani saja liku-liku perjalanan hidup ini menempuh destinasi cinta di penghujung usia. "Ah... resah, kenapa bergayut hiba di sudut mata yang mulai basah?" Seperti embun senja menyapa dedaunan, dahaga dibakari pijar hari siang tadi.
"Ya...senja telah tiba, pijar hari kembali ke peraduan sunyi. Kulipat langit kala malam, kuhamparkan sajadah, kuhitung-hitung tiket pertunjukkan menatap layar diri. Layar terbentang pijar hakiki bertandang, inikah destinasi yang sesungguhnya kucari. "Ya, bersemayamnya maha cinta di hati ini. Ia yang tak pernah alpa menatap dengan kasih sayang tak berhujung tak bertepi selagi batin memandang.
Makrifat cintaku nyata adanya,
kehadirannya memanglah indah.
Aku terpesona....
HR RoS
Jkt, 24/07/17
Minggu, 23 Juli 2017
Cerpen kolaborasi, Ketika Cinta Tak Direstui
#Cerpen_Kolaborasi
KETIKA CINTA TAK DIRESTUI
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
#1
Mentari telah meninggi, di balik pentilasi jendela. Perlahan kusibak tirai pembatas dingin dari siklus hawa tak menentu menerebos jiwa nan lara.
Sedangkan hati ini masih resah, menatap jalanan yang diguyuri hujan semalam.
Tok..tok...tok....
Terdengar suara ketukkan pintu
dari luar kamar, seperti ada yang mau membangunkanku.
"Hai... Ridwan, bangun! hari sudah siang.
Apakah kamu gak kerja hari ini? Sahut suara itu.
Sepertinya ibuku memanggil ini, bisikku dalam hati.
"Ya... ibu, aku sudah bangun ini,
ibu berlalu mendengar jawabanku telah bangun.
Lama tatapan kosong
kala memandang satu pigura di dinding kamar terpampang.
Ia Anetta, kekasihku.
Bergumam, bertanya dalam bisu?"
"Netta?"
Kenapa dikau hadir mengisi hidupku,
abang mencintaimu Netta
sedangkan akidah kita berbeda
diriku ingin memilikimu.
Tapi, "ahh... lamunan, kau usik jiwaku.
Anetta, kita yang pernah mengikat janji tuk saling mencintai selamanya, apapun itu rintangan kita nanti, akan dihadapi berdua.
Bak merpati tak ingin ingkari janji sampai mati.
Setengah dekade jalinan cinta bersamamu, orang tuaku belum diberi tahu sama sekali tentang hubungan kita.
Pagi telah merambat pergi, aku Ridwan masih saja di atas tilam lusuh berbantal jemari letih.
Dengan rasa malas tiba-tiba, aku putuskan tak masuk kerja hari ini.
Lalu, ibuku mengetuk pintu kedua kalinya.
Tok..tok...tok....
"Ridwan..., haii, nak?"
kenapa belum bangun juga kau ini?"
Tak sabar ibuku membuka pintu, kreekk...
memang pintu tak terkunci dari semalam.
"Walah... kau ini Ridwan!"
Ada apa sih kamu kok melamun begitu, hari sudah siang, apa kamu cuti hari ini?
tanya ibuku dengan nada penasaran.
(Aku masih saja diam menatap
foto Anetta di dinding kamarku)
Spontan ibuku mengambil bingkai yang terpampang di dinding, ia sudah lama potret itu menghias relung-relung asmara, di kala kurindu dengan Anetta.
*******
Coba kamu terangkan Ridwan!"
Ada apa dengan foto ini?
Kutatap wajah ibu dengan rasa pesimis dan malu.
"Ibu..., maafkan Ridwan ya bu.
Foto ini adalah Anetta kekasihku bu,"
terus!" tanya ibu lagi.
Ia Anetta, sudah lama kupacari, Netta minta menikah denganku ibu.
"Lho... baguslah itu Ridwan, Nietta kan cantik, wanita karir lagi,
dan kalian saling mencintai kok.
Ibu juga tak sabar menimang cucu kesayangan dari pernikahan kalian nanti.
Ia ibu, tapi.
Tapi kenapa Ridwan?"
"Ibu... Anetta itu beragama Kristiani lho ibu.
"Walah... sahut ibu.
Tidakk, tidak Ridwan....
Ibu tidak merestui kamu menikah dengan Anetta itu. Dengar Ridwan!"
Apa kata dunia, jikalau ibu punya menantu orang Kristiani.
Mau ditarok di mana muka ibu, semua saudara mencelamu nanti Ridwan.
"Buu... yang menikah itu aku bu,
bukan mereka.
"Ia... ibu tahu itu Ridwan, tapi bagaimana pertanggungjawaban di akhirat kelak, sedangkan tuntunan agama kita jelas melarang menikah beda agama.
"Yaa... ibu, cinta itu butuh perjuangan serta pengorbanan.
Pengorbanan apa? Tidakk Ridwan.
Kamu tidak boleh menikah dengan Anetta itu, titik....
Ibuku keluar dari dalam kamar, membawa ekspresi gundah gulana.
Sedangkan aku larut dalam pikir, bak buah simalakama menjadi menu pagiku.
Kutuliskan sepucuk surat
kukirimkan pada Anetta.
Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang....
*******
#2
Sementara itu di tempat lain...
Anetta termangu..
Matanya menatap jauh ke arah jendela kantornya yang berhadapan dengan laut...
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang..... atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kutipan ayat yang disampaikan pendeta dalam khotbah ibadah minggu masih saja terngiang dalam telinganya. Hati Anetta benar-benar kacau balau.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Tuhan... di sisi lain aku begitu mencintai Ridwan... tapiiii....." batin Anetta.
Hanya butiran bening yang menetes di pelupuk mata Netta.
_________________
__________________
Suatu siang...
Sepucuk surat dari Ridwan datang.
Dengan tergesa-gesa Anetta pun segera membukanya.
"Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang.."
Anetta terhenyak ketika membaca surat dari Ridwan. Ada pemberontakan yang begitu hebat di hatinya.
"Tidak... jangan sekarang Bang.. aku belum siap bila harus berpisah dengan abang!" jerit Netta sambil meremas surat dari Ridwan.
Ia pun bergegas mencoba menghubungi Ridwan di handphonenya, namun sia-sia saja. Nomor milik Ridwan tidak aktif.
Ahkirnya ia pun memutuskan mencari Ridwan ke Jakarta.
Bukan hal yang mudah untuk mencari alamat Ridwan di Jakarta. Namun dengan sedikit bantuan dari seorang teman, Anetta berhasil menemukan rumah Ridwan.
"Tok... tok... tok... permisi..." ucap Netta sambil mengetuk pintu rumah Ridwan.
"iya sebentar" sahut suara dari dalam.
Tidak berapa lama terdengar pintu dibuka, kreekkk....
"Netta???" ucap Ridwan terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Ridwan setengah tidak percaya jika yang dihadapinya adalah Anetta, kekasih hatinya, lima tahun lamanya ia menjalin cinta.
"Eh.. anu.. itu.. eh... silahkan duduk Netta" kata Ridwan sambil tergagap-gagap.
Anetta pun duduk berhadapan dengan Ridwan. Untuk sementara waktu mereka hanya saling terdiam. Hingga pertanyaan Ridwan pun memecah keheningan di antara mereka.
"Kapan kau sampai di Jakarta?" tanya Ridwan.
"Kemarin siang saya sampai abang, aku menginap di rumah Maria. Dia yang membantuku mencari alamat abang." ucap Netta getir.
Lagi-lagi mereka berdua pun kembali terdiam.
Netta membuka pembicaraan
"Kenapa Bang? Tidak adakah jalan keluar yang terbaik buat kita? Apakah memang semua harus berakhir seperti ini?" kata Anetta terisak.
"Entah Net.. tapi mungkin ini yang terbaik." ujar Ridwan.
"Tapi Netta mencintai abang...." sanggah Anetta.
"Begitu pula dengan abang Netta... abang juga mencintai Netta tapi perbedaan kita sungguh tidak bisa disatukan Net..." sahut Ridwan. "Apa kamu mau berpindah keyakinan demi aku supaya kita bersatu?" lanjutnya.
Anetta terdiam dan tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jawab Net.. apa Netta mau?" desak Ridwan. "Maaf bang... Netta tidak bisa membohongi kata hati Netta... Netta tidak bisa ikut keyakinan yang abang anut..." ucap Anetta.
"Begitu pula dengan abang Net... bila kamu mengajukan pertanyaan yang sama, abang pun tidak sanggup untuk ikut keyakinan yang kamu anut..." sahut Ridwan. "Dan lagi... apakah kita mau menyakiti hati orangtua kita bila bersikukuh meneruskan hubungan ini?"
Anetta menggeleng.
"Bagaimana pula dengan anak-anak kita kelak? Tidak mungkin dalam satu kapal akan dikendalikan dua nahkoda dan akidah... kapal tersebut tentu akan kesulitan menemukan arah dan tujuannya... Kamu paham kan Net?" ucap Ridwan.
Anetta pun menyeka air matanya.
"Netta paham bang... Maaf bila Netta terlalu egois ingin memaksakan hubungan ini...
Dengan hati yang kecewa, gayung tak bersambut, bak pucuk dicinta ulam layu sudah.
"Oya, bang, Netta pamit pulang aja ke Semarang bang... Netta ikhlas... Netta legowo dengan keputusan yang abang ambil... Semoga abang menemukan wanita solehah untuk mendampingi hidup abang... doa Netta menyertai abang. Dan Netta tidak pernah menyesal jatuh cinta pada bang Ridwan" ucap Netta sambil tersenyum.
"Abang pun juga begitu Net.. Abang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Netta dan abang doakan Netta pun segera menemukan pendamping yang lebih baik dari abang" jawab Ridwan.
(Hingga Ridwan berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya Anetta)
Selesai
Jakarta, Semarang, 24/01/2017
KETIKA CINTA TAK DIRESTUI
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
#1
Mentari telah meninggi, di balik pentilasi jendela. Perlahan kusibak tirai pembatas dingin dari siklus hawa tak menentu menerebos jiwa nan lara.
Sedangkan hati ini masih resah, menatap jalanan yang diguyuri hujan semalam.
Tok..tok...tok....
Terdengar suara ketukkan pintu
dari luar kamar, seperti ada yang mau membangunkanku.
"Hai... Ridwan, bangun! hari sudah siang.
Apakah kamu gak kerja hari ini? Sahut suara itu.
Sepertinya ibuku memanggil ini, bisikku dalam hati.
"Ya... ibu, aku sudah bangun ini,
ibu berlalu mendengar jawabanku telah bangun.
Lama tatapan kosong
kala memandang satu pigura di dinding kamar terpampang.
Ia Anetta, kekasihku.
Bergumam, bertanya dalam bisu?"
"Netta?"
Kenapa dikau hadir mengisi hidupku,
abang mencintaimu Netta
sedangkan akidah kita berbeda
diriku ingin memilikimu.
Tapi, "ahh... lamunan, kau usik jiwaku.
Anetta, kita yang pernah mengikat janji tuk saling mencintai selamanya, apapun itu rintangan kita nanti, akan dihadapi berdua.
Bak merpati tak ingin ingkari janji sampai mati.
Setengah dekade jalinan cinta bersamamu, orang tuaku belum diberi tahu sama sekali tentang hubungan kita.
Pagi telah merambat pergi, aku Ridwan masih saja di atas tilam lusuh berbantal jemari letih.
Dengan rasa malas tiba-tiba, aku putuskan tak masuk kerja hari ini.
Lalu, ibuku mengetuk pintu kedua kalinya.
Tok..tok...tok....
"Ridwan..., haii, nak?"
kenapa belum bangun juga kau ini?"
Tak sabar ibuku membuka pintu, kreekk...
memang pintu tak terkunci dari semalam.
"Walah... kau ini Ridwan!"
Ada apa sih kamu kok melamun begitu, hari sudah siang, apa kamu cuti hari ini?
tanya ibuku dengan nada penasaran.
(Aku masih saja diam menatap
foto Anetta di dinding kamarku)
Spontan ibuku mengambil bingkai yang terpampang di dinding, ia sudah lama potret itu menghias relung-relung asmara, di kala kurindu dengan Anetta.
*******
Coba kamu terangkan Ridwan!"
Ada apa dengan foto ini?
Kutatap wajah ibu dengan rasa pesimis dan malu.
"Ibu..., maafkan Ridwan ya bu.
Foto ini adalah Anetta kekasihku bu,"
terus!" tanya ibu lagi.
Ia Anetta, sudah lama kupacari, Netta minta menikah denganku ibu.
"Lho... baguslah itu Ridwan, Nietta kan cantik, wanita karir lagi,
dan kalian saling mencintai kok.
Ibu juga tak sabar menimang cucu kesayangan dari pernikahan kalian nanti.
Ia ibu, tapi.
Tapi kenapa Ridwan?"
"Ibu... Anetta itu beragama Kristiani lho ibu.
"Walah... sahut ibu.
Tidakk, tidak Ridwan....
Ibu tidak merestui kamu menikah dengan Anetta itu. Dengar Ridwan!"
Apa kata dunia, jikalau ibu punya menantu orang Kristiani.
Mau ditarok di mana muka ibu, semua saudara mencelamu nanti Ridwan.
"Buu... yang menikah itu aku bu,
bukan mereka.
"Ia... ibu tahu itu Ridwan, tapi bagaimana pertanggungjawaban di akhirat kelak, sedangkan tuntunan agama kita jelas melarang menikah beda agama.
"Yaa... ibu, cinta itu butuh perjuangan serta pengorbanan.
Pengorbanan apa? Tidakk Ridwan.
Kamu tidak boleh menikah dengan Anetta itu, titik....
Ibuku keluar dari dalam kamar, membawa ekspresi gundah gulana.
Sedangkan aku larut dalam pikir, bak buah simalakama menjadi menu pagiku.
Kutuliskan sepucuk surat
kukirimkan pada Anetta.
Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang....
*******
#2
Sementara itu di tempat lain...
Anetta termangu..
Matanya menatap jauh ke arah jendela kantornya yang berhadapan dengan laut...
"Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang..... atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
Kutipan ayat yang disampaikan pendeta dalam khotbah ibadah minggu masih saja terngiang dalam telinganya. Hati Anetta benar-benar kacau balau.
"Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Aku bingung Tuhan... di sisi lain aku begitu mencintai Ridwan... tapiiii....." batin Anetta.
Hanya butiran bening yang menetes di pelupuk mata Netta.
_________________
__________________
Suatu siang...
Sepucuk surat dari Ridwan datang.
Dengan tergesa-gesa Anetta pun segera membukanya.
"Netta kusayang,
Abang sangat mencintaimu, tapi hubungan kita tak direstui oleh orang tua abang sayang,
maafkan abang ya Netta, bila kita tak berjodoh.
Abang tak sanggup menantang matahari karena sebuah cinta tak direstui, abang tak ingin disebut anak yang tak berbakti.
Sekali lagi, maafkan abang ya sayang.."
Anetta terhenyak ketika membaca surat dari Ridwan. Ada pemberontakan yang begitu hebat di hatinya.
"Tidak... jangan sekarang Bang.. aku belum siap bila harus berpisah dengan abang!" jerit Netta sambil meremas surat dari Ridwan.
Ia pun bergegas mencoba menghubungi Ridwan di handphonenya, namun sia-sia saja. Nomor milik Ridwan tidak aktif.
Ahkirnya ia pun memutuskan mencari Ridwan ke Jakarta.
Bukan hal yang mudah untuk mencari alamat Ridwan di Jakarta. Namun dengan sedikit bantuan dari seorang teman, Anetta berhasil menemukan rumah Ridwan.
"Tok... tok... tok... permisi..." ucap Netta sambil mengetuk pintu rumah Ridwan.
"iya sebentar" sahut suara dari dalam.
Tidak berapa lama terdengar pintu dibuka, kreekkk....
"Netta???" ucap Ridwan terkejut. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"
Ridwan setengah tidak percaya jika yang dihadapinya adalah Anetta, kekasih hatinya, lima tahun lamanya ia menjalin cinta.
"Eh.. anu.. itu.. eh... silahkan duduk Netta" kata Ridwan sambil tergagap-gagap.
Anetta pun duduk berhadapan dengan Ridwan. Untuk sementara waktu mereka hanya saling terdiam. Hingga pertanyaan Ridwan pun memecah keheningan di antara mereka.
"Kapan kau sampai di Jakarta?" tanya Ridwan.
"Kemarin siang saya sampai abang, aku menginap di rumah Maria. Dia yang membantuku mencari alamat abang." ucap Netta getir.
Lagi-lagi mereka berdua pun kembali terdiam.
Netta membuka pembicaraan
"Kenapa Bang? Tidak adakah jalan keluar yang terbaik buat kita? Apakah memang semua harus berakhir seperti ini?" kata Anetta terisak.
"Entah Net.. tapi mungkin ini yang terbaik." ujar Ridwan.
"Tapi Netta mencintai abang...." sanggah Anetta.
"Begitu pula dengan abang Netta... abang juga mencintai Netta tapi perbedaan kita sungguh tidak bisa disatukan Net..." sahut Ridwan. "Apa kamu mau berpindah keyakinan demi aku supaya kita bersatu?" lanjutnya.
Anetta terdiam dan tenggelam dalam isak tangisnya.
"Jawab Net.. apa Netta mau?" desak Ridwan. "Maaf bang... Netta tidak bisa membohongi kata hati Netta... Netta tidak bisa ikut keyakinan yang abang anut..." ucap Anetta.
"Begitu pula dengan abang Net... bila kamu mengajukan pertanyaan yang sama, abang pun tidak sanggup untuk ikut keyakinan yang kamu anut..." sahut Ridwan. "Dan lagi... apakah kita mau menyakiti hati orangtua kita bila bersikukuh meneruskan hubungan ini?"
Anetta menggeleng.
"Bagaimana pula dengan anak-anak kita kelak? Tidak mungkin dalam satu kapal akan dikendalikan dua nahkoda dan akidah... kapal tersebut tentu akan kesulitan menemukan arah dan tujuannya... Kamu paham kan Net?" ucap Ridwan.
Anetta pun menyeka air matanya.
"Netta paham bang... Maaf bila Netta terlalu egois ingin memaksakan hubungan ini...
Dengan hati yang kecewa, gayung tak bersambut, bak pucuk dicinta ulam layu sudah.
"Oya, bang, Netta pamit pulang aja ke Semarang bang... Netta ikhlas... Netta legowo dengan keputusan yang abang ambil... Semoga abang menemukan wanita solehah untuk mendampingi hidup abang... doa Netta menyertai abang. Dan Netta tidak pernah menyesal jatuh cinta pada bang Ridwan" ucap Netta sambil tersenyum.
"Abang pun juga begitu Net.. Abang tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Netta dan abang doakan Netta pun segera menemukan pendamping yang lebih baik dari abang" jawab Ridwan.
(Hingga Ridwan berpisah secara baik-baik dengan kekasihnya Anetta)
Selesai
Jakarta, Semarang, 24/01/2017
Puisi Kolaborasi Kidung Tiga Gita
#Puisi_Prosais_Kolaborasi
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
Puji Astuti
#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga dipupuk lewat diksi.
Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi.
Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia.
Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....
Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....
****
#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu.
"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening.
"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah.
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih.
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah.
Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....
****
#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan.
Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya.
Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati.
Kau yang pergi....
Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....
Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017
KIDUNG TIGA GITA
Penulis: Romy Sastra bersama
Fe Chrizta
Puji Astuti
#i
Bersamamu gita
kidung hening dendangkan rasa
jari-jemari menari titipkan aksara hati
langit jingga pelangi kata bermadah
bersemi bunga dipupuk lewat diksi.
Gita tinta gugurkan resah
kenapa dunia dihiasi lara
sedangkan bayu tiupkan sepoi merayu
pada tetesan malam tak hujan
ciptakan embun,
rengkuh dada rindu
berkaca diri pada imaji
bernyanyilah!
Biar sepi berlalu pergi.
Pengabdian Srikandi dan Sembodro
leraikan jerih panah Arjuna di medan laga
rona kalbu menyentuh relung-relung pilu
bahwa rindu tak beristana megah
bermahkota nawacita cinta
tuk keseburan hati merenda setia.
Kidung tiga gita talenta sastra
antara petikan, dawai dan syair bernyanyi
bersamamu kita bisa menyulam history
cerita luka, tersenyum, canda, tawa, dan hahahahaaa....
Berbahagia seiring menempuh senja
di pantai maya ini,
jejakkan kaki melangkah yang kian menepi
meski terantuk kerikil-kerikil tirani mencibir
Aahh, tak apalah....
****
#ii
Senandung lirih terdengar perlahan
di antara desir angin
meniupkan nyanyian rindu menyayat pilu.
"Di mana engkau sayang?" Gumam bisu.
Bayanganmu semakin lekat di netra berdebu
ingin kutepis rindu
namun semakin kuat mencengkram
jejak-jejak langkah kaki berlari di sekeliling rasa
riuh berbisik di telinga teriakkan kata-kata manis
namun kau tak sekalipun tampakkan raga
buatku semakin deras teteskan butiran bening.
"Hentikan...!" bentakku sembari bersedih,
kau hujamkan belati pada pikiran nan lelah.
"Bebaskan aku..." ucapan nan lirih.
"Ya ...bebaskan aku dari rindu tak sudah.
Bawalah kisah kita dari keterpasungan ini
hingga jiwa beroleh kedamaian
bersatu dan abadi....
****
#iii
Perlahan telapak kaki ini
menyusuri tepian pantai pasir putih
menjemput riak air laut yang datang
aku tertegun memandang senja
ke mana mega yang berarak
berlalu pergi tak rinaikan awan.
Kemarin masih kita rajut asmara
begitu sempurna aku kau bawa
meniti perjalanan kasih suci
di senja itu kau bernyanyi mengucapkan janji
begitu manisnya.
Masih terlintas senyum bahagiamu
mengecup lembut bibirku
melambung tinggi lenakan rasa kala itu,
kita berjanji tuk arungi perjalanan
dalam lelah tak dirasa
eratkan jemari memintal benang kasih
setia sampai mati.
Kau yang pergi....
Akankah kembali lagi padaku?
Sedangkan di sini menanti rindu
penantian itu jangan sia-sia
meski dunia kita sudah berbeda
namun cinta ini tak akan pernah sirna
hanya dikaulah belahan seluruh jiwa
Mengertilah Arjunaku....
Jakarta, Semarang, Jogja, 29/01/2017
Langganan:
Postingan (Atom)